Menunggu senja di kota lama

Awalnya ingin menyelesaikan tulisan opini kota yang ditugaskan grup angkatan ke aku, tetapi akhirnya malah berubah hasilnya. Mencari ide dengan mendekati polder tawang, melihat bagaimana sistem polder di bangun untuk kota yang sering mendapat julukan 'Semarang kaline banjir' ini. Letaknya yang tidak jauh dari Kota Lama, menjadikan aku tidak sabar menginjakkan kaki, menghirup udaranya dan tentu hunting foto. Dan... sampailah senja hari, masih di sini, dan justru tulisan ini yang bisa aku bagikan.

Aku rasa tidak sedikit ulasan mengenai Kota Lama Semarang ini, banyak banget. Mau blog hingga hasil riset para pakar heritage maupun para ahli arsitektur kota pasti sudah banyak tersebar di internet. Tinggal searching saja di google pasti bermunculan dari yang hanya sekedar menampilkan foto-foto Kota Lama, Gereja Blenduk hingga teori-teori yang mampu ditelurkan oleh para doktor-doktor pakar perkotaan dan arsitektur. Tidak hanya, itu Pemerintah Belandapun cukup andil melestarikan kota bersejarah ini, coba saja klik link ini Semarang.nl, kamu bakal disuguhi informasi Kota Semarang. Paling banyak informasi Kota Semarang di masa lalu, sebelum penjajahan hingga masa-masa pendudukan pemerintahan Belanda. Komplit banget. Tidak ada ruginya berselancar di website itu sekedar bertamasya melihat kondisi Kota Semarang tempo doeloe. 

Dan saat ini Kota Lama sedang bersolek, berdandan, dipugar dimana-mana, jalan yang tadinya rusak diperbaiki. Tembok yang mengelupas catnya, dipermak ulang hingga bener-bener cling dan photogenic banget. Lokasinya yang memang rawan tenggelam oleh banjir dan rob, menjadikan infratruktur perkotaannya duh.. menyedihkan, gampang banget rusak. Hari ini, aku kesini untuk yang kesekian kalinya, tetap saja eksotis, dan indah.

Aku mulai perjalananku dari Polder Tawang, dimana halte BRT (Bus Rapid Transit) berhenti. Oh ya, untuk menjangkau lokasi ini sangatlah mudah, kita bisa memilih BRT koridor 2 jurusan Sisemut (Ungaran) - Terboyo. Tarifnya sangatlah murah, cuma Rp. 3.500,- untuk orang dewasa dan cuma Rp. 1.000,- untuk anak-anak dan pelajar. Disebut Polder tawang karena memang letaknya tepat di depan stasiun tawang. Dibangun pada tahun 1998 oleh Kementerian Pekerjaan Umum berfungsi sebagai sistem pengendali banjir Kota Semarang, khususnya di daerah kota lama. Air hujan dan air limpasan di daerah Kota Lama akan ditampung oleh Polder dengan luas kurang lebih 1 ha ini. Sebelum menjadi polder, lahan ini berfungsi sebagai taman dan 'terminal' angkutan umum perkotaan, ngetem di sini.

Polder Tawang, 15 Desember 2018
Setelah menghabiskan 1 botol air mineral, aku meninggalkan polder ini menuju ke arah barat dimana Kota Lama berada. Melewati jalan Merak dimana pabrik rokok praoe lajar berada. Cukup kaget dibuatnya, pasalnya belum pernah melihat iklan maupun kemasan rokok ini di minimarket apalagi di supermarket besar. Iklan di TV nasional maupun lokalpun lebih banyak di hiasi oleh iklan rokok-rokok mainstream baik yang berasal dari Kudus maupun Kediri. Tentu bisa ditebak, rokok apa yang aku maksud. Melewati depan pabrik ini sekitar jam 2.30 sore, dikala para pekerja bersiap-siap untuk pulang. Mungkin saja khusus hari sabtu, para pekerja tidak bekerja fulltime hingga pukul 16.00 seperti kebanyakan perusahaan/ pabrik di Indonesia. Sisi lain yang menarik dari pabrik rokok ini adalah lokasinya yang berada di Kota Lama, menempati bangunan bekas Maintz & Co perusahaan swasta Belanda yang bergerak di bidang energi. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang membangun jaringan listrik di pulau jawa pada masanya. Setelah proses nasionalisasi perusahaan dimasa kemerdekaan Republik Indonesia, perusahaan ini harus meninggalkan kota tercinta dan beralih fungsi menjadi pabrik rokok praoe lajar ini. Meskipun tidak memiliki iklan khusus, ternyata pabrik ini tetap berdiri, beroperasi dan disinyalir memiliki konsumen setia yang mereka para nelayan yang berada di Pantai Utara Jawa dari Pekalongan hingga Rembang. Pantas saja tidak perlu iklan, ternyata sudah punya pelanggan setia. 

Pabrik Rokok Praoe Lajar Semarang, 15 Desember 2018
Selepas melewati Jalan Merak, aku belok kanan melewati jalan Garuda dan mendapati 2 museum apik dan cukup nyentrik. Pas banget untuk foto-foto. Apik karena emang photogenic banget dan nyentrik karena emang khas. Bener-bener berhadap-hadapan yaitu DMZ (Dream Museum Zone) dengan tiket masuk Rp. 100.000,- kita bisa berfoto-foto sepuasnya di dalam museum ini. Karena tiket yang cukup heh...mahal buat aku sendiri, maka akupun memutuskan untuk tidak masuk, tapi lumayan aku dapet brosurnya. Sedikit mengutip dari brosur yang aku terima, ternyata museum ini menyajikan 3D trict Art Museum dan Original Upside Down yang diklaim terbaik di dunia. Ada seni trik yang menjadikan lukisan 2D menjadi 3D disaat kita berpose dan diambil gambarnya menggunakan kamera. DMZ ini sendiri menawarkan 12 tema menyenangkan bagi pengunjung di semua kalangan dari animasi, komodo, salju hingga rumah miring. Namun maaf, info itu aku dapatkan hanya dari brosur, tidak ada review yang bisa aku berikan. Tepat di depannya adalah Old City yang menawarkan wahana yang sama, yaitu 3D trcik Art Museum, hanya saja harganya lebih murah, Rp. 50.000,-. Bagi aku yang hanya untuk foto-foto tentu ini masih di angka yang gede. 
DMZ (Dream Museum Zone), 15 Desember 2018
Old City 3D Trick Museum
Selesai bertanya-tanya sama SPG cantik yang menawarkan DMZ maupun Old City, aku meneruskan ekplorasiku ke Gereja Blenduk. Tentu sudah banyak informasi mengenai gereja unik ini. Iya, mungkin ini satu-satunya gereja berkubah yang biasanya digunakan untuk masjid-masjid. Tapi di sini justru diaplikasikan untuk gereja. Nama aslinya sih GPIB Immanuel Semarang. Gereja ini merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda pada tahun 1753. Kenapa menjadi mBlenduk itu hanyalah sebutan masyarakat setempat saja melihat dari kubah bangunan yang mlenduk, atau berupa kubah. Masih aktif digunakan oleh masyarakat setempat lho, terutama ibadah di hari minggu. Tepat di depannya adalah taman bermain lengkap dengan obyek-obyek foto selfie dengan bayaran sukarela. Kita bisa memanfaatkan properti yang disediakan oleh masyarakat setempat seperti sepeda ontel, becak, topi ala noni-noni Belanda dan aneka barang antik yang dijajakan tepat di sebelah timur Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk Semarang, 14 Desember 2018
Taman Srigunting, Depan (sebelah timur) Gereja Blenduk.
Pedagang barang antik Kota Semarang
Dan.. destinasi terakhir aku hari ini adalah Spiegel Cafe & Bistro, bangunan kuno 2 lantai yang sebelumnya dimiliki oleh Herman Spiegel ini tetap diabadikan namanya menjadi Spiegel. Sebelum menjadi cafe, bangunan ini tidaklah terurus, rusak dan benar-benar menyeramkan. Di masanya, di saat kedudukan Belanda, bangunan ini berfungsi sebagai toko serba ada yang menyediakan alat-alat olah raga, tekstil, mesin ketik, hingga furniture rumah tangga. Toko ini berdiri di bawah perusahaan Winkel Maatschappij “H Spiegel” yang dibangun di tahun 1895 oleh Tuan Addler dimana H. Spiegel diangkat menjadi manajer toko. Tepat 5 tahun setelah menjabat sebagai manajer, S. Piegel dapat memilikinya. Gimana rasanya menikmati kopi dibangunan tua? hehe.. rasanya sama saja, pertama masuk langsung request Gayo tubruk dan ternyata tidak tersedia. Karena tidak tersedia kemudian mencoba mencari Kopi Lintong atau minimal Kopi Kintamani Bali, dan ternyata absen dari menu tebalnya. Ya sudah akhirnya mencoba flat white hot tanpa gula, dan rasanya ya sama dengan beberapa coffee latte yang bisa kita nikmati di berbagai tempat di beberapa cafe di sekitar Kota Semarang. Lumayan! Untuk menu makannya aku coba Gogo Tacos, menu yang bener-bener baru dan belum aku rasakan. Aku mendapatkan 2 slice dan hanya bisa aku makan 1 saja. Menu makanan khas Mexico ini terbuat dari sayuran, tomat, sedikit daging, keju dan jagung. Aku pikir rasanya bakal tidak jauh beda sama kebab, eee ternyata enak sih, tapi karena terlalu gede porsinya, jadi nggak bisa habis 2 slices. 
Spiegel Cafe & Bistro
Flat White Hot
Gogo Tacos
Share: