Lepas penat di Sendang Sikucing, Kendal

Terbayar setelah 1 jam bermotor dari Kota Semarang menuju Weleri, Kendal. Seluruh penat selama perjalanan di bawah terik matahari akhirnya lepas setelah menginjakkan kaki di pasir Pantai Sendang Sikucing. Murah tiketnya yang hanya Rp 5.200,- sudah bisa mengobati seluruh penasaran kecantikan alam pantai utara jawa. Biru langit bertemu dengan birunya samudra menjadi framing cakrawala lensa. Ambil foto dari berbagai sudut, seluruh aktivitas wisatawan hingga penjual dan memang asik.

Kali ini aku tidak sendiri, berlima bersama mahasiswa Sekolah Vokasi PWK Undip. Kebetulan 2 diantara mereka adalah orang asli Kendal, yang rumahnya tidak jauh dari obyek wisata ini. Mereka berempat inilah yang menjadi 'marketing' memasarkan Sendang Sikucing ke aku, membuat penasaran saja. Sebenarnya ada 3 destinasi wisata pantai di sini yaitu Sendang Sikucing, Pantai Cahaya dan Sendang Asih. Khusus Pantai Cahaya harus membayar sejumlah uang yang cukup mahal (sekitar Rp. 40.000,-) sedangkan untuk Sendang Asih masih gratis. Pantai cahaya dikelola oleh swasta, tentu jauh lebih atraktif dan banyak wahana di sana termasuk lumba-lumba. Tetapi kami memutuskan cukup ke Pantai Sendang Sikucing, selain murah kita ingin melihat secara langsung pantai yang asli, belum ada sentuhan pembangunan berarti. Justru masyarakat setempat bersama pemerintah daerah bersama-sama berkolaborasi mengelola pariwisata bahari ini. Selain berwisata kami juga menemui pengelola DTW Sendang Sikucing Bapak Rozi. Berbincang sebentar mengenai seluk beluk Sendang Sikucing kemudian kami melanjutkan explorasi.

Gerbang masuk Sendang Sikucing
Sebelum mengeksplorasi Sendang Sikucing yang masih asli, tanpa ada perubahan bentang alam yang berarti kami sempatkan mencicipi pecel-lontong khas Sikucing. Tidak jauh berbeda dengan pecel pada umumnya sebenarnya, yang membedakan adalah cara membuatnya. Bumbu kacang diuleg langsung disaat kita memesan pecel sehingga kita bisa minta pedas atau tidak pedas sesuai selera konsumen. Ditambah berbagai gorengan, krupuk dan kopi sasetan. Nah ini yang mungkin perlu diperbaiki, hanya mengandalkan kopi saset yang rasanya standar begitu-begitu saja. Meski begitu, suasana liburan di pantai tidak terganggu, tetap saja asik, penuh canda dan tawa. Ditambah guyonan khas milenial mahasiswa yang sedikit membuli temannya hingga tersipu malu hingga wajah memerah. Selepas makan pecel, langsung menuju saung yang berada tepat di depan warung makan menghadap laut. Udara panas pantai menjadikan hari ini begitu melelahkan, merebahkan bada di atas terpal dan mata mulai terpecam. Tetapi, lagi-lagi candaan seakan menjadi alarm yang selalu membangunkan kami, selalu menuntut mata agar tetap terbuka dan bersaut-sautan menimpali setiap canda tawa. Seru!
Saung berteduh yang sederhana
Kesan sederhana sangat melekat namun dibalik itu ada inklusivitas yang tinggi antara pemerintah daerah selaku pengelola destinasi wisata dengan masyarakat. Lihat saung berteduh di tas yang dilengkapi dengan terpal baik sebagai alas duduk maupun atap. Gratis, tidak perlu bayar jika hanya ingin berteduh sambil melihat birunya cakrawala laut jawa. Bagi yang mau berenang bisa menyewa ban mobil yang tertumpuk rapi di sebalah kanan dan kiri saung. Harganya sekitar Rp. 5.000,- hingga Rp. 10.000,- tergantung ukuran ban yang bisa digunakan sepuas hati kita. Selain saung ada juga para penjaja makanan, warung-warung yang berjejer memanjang, mereka adalah masyarakat setempat yang sudah bertahun-tahun berjualan di sini. Aneka barang dagangan mereka jajakan dari makanan hingga ikan asin yang bisa kita bawa pulang. Belum ada penjaja kerajinan tangan khas Sikucing yang kami temui. Tidak tau kalau di hari sabtu atau minggu dimana puncak wisatawan berkunjung. 
Pasir Sendang Sikucing


Pasir pantainya memang tidak berwarna putih, tetapi kita tetap bisa bersenang-senang dengan mainan alam ini. Membuat lubang sedalam-dalamnya kemudian kita kubur kaki atau mungkin justru seluruh badan ke dalam pasir. Aku sih tidak melakukannya, tetapi aku menemukan beberapa anak-anak melakukan dolanan ini. Membuat lubang kemudian mereka membenamkan tubuhnya ke dalam pasir. Panas terik matahari tidak mereka hiraukan, tetap saja berlarian kesana-kemari sambil teriak memanggil teman-teman lainnya untuk bermain. Tidak jarang juga aku menemukan lubang-lubang pasir yang sengaja dibuat sebagai jebakan. Di atas lubang pasing mereka tutup dengan daun agar tidak terlihat kalau ada lubang, kemudian dikala ada wisatawan lain terjebak ke dalam lubang itu mereka tertawa terbahak saling bersautan. Seru rasanya dunia mereka yang jahil ini!. Meskipun jebakan, tetapi permainan ini tetaplah aman, tidak terlalu bahaya justru menambah keseruan dan menjadikan interaksi antar pengunjung pantai yang tadinya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Di saat sudah jenuh dan penat dengan suasana di daeratan kita bisa menyewa kapal wisata milik para nelayan untuk mengantarkan kita ke tengah lautan. Berlayar saja sekitar 30 - 45 menit dengan harga kurang lebih Rp. 10.000,- perorang yang mampu menampung 8 - 10 orang. 

Kapal Wisata Sendang Sikucing
Share:

No comments:

Post a Comment