Jeep Lava Tour: telusuri erupsi gunung merapi

Sabtu pagi (27 Oktober 2018), empat jeep menjemput kami di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. Bersiap mengantarkan tim menelusuri bekas erupsi Gunung Merapi, dari bangker kaliadem hingga museum mini sisa hartaku. Niat awal sebenarnya ingin menyaksikan eksotisnya sunrise di Gunung Merapi. Harapan besar itulah yang mendorong kami bangun lebih pagi dari jam biasanya. Pukul 03.30 tepat alarm HP mulai berdering, bersiap-siap kurang lebih 30 menit dan menunggu kedatangan jeep di titik kumpul yang sebelumnya telah kami sepakati yaitu di depan Joglo Pentingsari. Ternyata sudah ada 1 jeep merah menyambut kami tepat di pintu gerbang joglo, kemudian disusul ketiga jeep lainnya. Suara gemuruh khas mesin ber CC besar mulai menggetarkan pagi yang berkabut. 


Setiap jeep diisi oleh maksimal 4 penumpang dan 1 sopir. Jeep merah dimana kami menumpang ada saya bersama Pak Yono dan 2 mahasiswi yaitu Elisabeth dan Elita. Khusus Elita duduk di depan samping sopir agar space ruang duduk kami di belakang bisa cukup atau lebih longgar. Tepat pukul 04.30 pagi kami meninggalkan Pentingsari dan menuju wahana pertama yaitu Bangker Kaliadem. Kabut tebal menyelimuti bukit, jarak pandang mungkin tidak lebih dari 10 meter. Bapak Sopir yang mengantarkan kami harus menghidupkan lampu kabut, itupun tidak cukup membantu. Berjalan pelan dan tepat di tengah-tengah jalan. Sesekali kami berpapasan dengan jeep lain dan terkadang truk-truk pengangkut pasir. Jangan berkelombang bebatuan menjadi suguhan sepanjang jalan. 



Bangker Kaliadem menjadi obyek pertama yang kami kunjungi. Memasukinya sambil mendengarkan penjelasan dari pak sopir yang mengantar. Ternyata mereka cukup berpengalaman, bukan hanya skill menyetir di jalan berbatu tetapi juga mengetahui sejarah dan cerita-cerita di balik pembangunan bangker ini. Tahun 2010, 2 korban terperangkap di dalamnya. Memang di luar prediksi, bangker ini dirancang bukan untuk menyelamatkan penduduk dari lahar panas akan tetapi dari awan panas atau wedus gembel. Dua korban di dalam bangker pada tahun 2010 bukan karena awan panas tetapi bangker ini tertimbun oleh lahar. Cukup lama mengeluarkan korban dari bangker, para penyelamat harus mengeluarkan material-material erupsi gunung api baru bisa membuka pintu bangker. Sambil mendengarkan penjelasan 'tour guide' kami berjalan menuju bukit di atas bangker untuk sekedar berfoto di tengah kabut. Sebenarnya ini salah satu spot sunrise yang bagus, begitu penjelasan pak sopir, namun sepertinya kondisi alam belum memihak ke kami untuk menikmati indahnya pancaran sunrise. Kabut tebal. 

Puas menikmati tebalnya kabut kami mulai bergerak ke bawah menuju batu alien. Batu yang mirip menyerupai wajah manusia ini besar terdampar akibat erupsi gunung merapi 2010. Meskipun obyek utamanya adalah batu alien, bukan berarti ini merupakan satu-satunya yang bisa dinikmati. Di sini ada beberapa spot foto yang dibangun oleh warga dengan latar gunung Merapi. Namun sangat disayangkan, kabut kurang bersahabat sehingga tidak bisa menikmatinya. Sekitar jam 06.00 kami berada di spot ini, tepat di sebalah timur adalah kali gendol yang selalu menjadi 'saluran' lahar panas maupun lahar dingin. DI dasar sungai yang kering dengan kedalaman lebih dari 15 meter berjajar truk-truk pengangkut pasir. Mereka antri mendapatkan pasir untuk selanjutnya di angkut ke kota-kota tujuan.

Setelah bersenang-senang di spot ini, naik jeep kami menuju museum mini sisa hartaku. Rumah warga yang terkena awan panas. Banyak properti rumah yang masih tersisa seperti gelas, piring dan properti lainnya. Banyak properti yang masih utuh yang berubah bentuk karena meleleh akibat terjangan awan panas. Banyak sekali cerita yang disampaikan oleh tour guide sekaligus sopir sebenarnya. Saat menunjukkan foto awan panas yang menyerupai wajah manusia, pak sopir menceritakan mengenai kepercayaan masyarakat Jogja mengenai makhluk halus yang menunggu gunung merapi. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi itulah kepercayaan masyarakat setempat. Ternyata ada banyak versi cerita di balik erupsi Gunung Merapi. Bukan hanya cerita vulkanologi tetapi juga cerita-cerita mistis yang diceritakan baik secara gamblang maupun sedikit disembunyikan.

Rupanya museum mini sisa hartaku merupakan destinasi terakhir kami. Selesai mendengarkan cerita panjang dan lebar dari Pak Sopir kami langsung turun ke bawah yaitu di Desa Wisata Pentingsari. Mandi pagi, sarapan dan kemudian melanjutkan kegiatan setengah hari sebelum jam 13.00 kami harus check-out dari homestay. 
Share: