Belajar dari Pentingsari: desa wisata yang tidak memiliki obyek wisata

Pasti sudah banyak yang membahas desa wisata ini, baik oleh para blogger maupun wartawan. Desa wisata Pentingsari, sebuah desa wisata di kaki Gunung Merapi yang sangat istimewa. Kali ini kami tim dari Semarang bukanlah satu-satunya rombongan yang berkunjung dan menginap, kami adalah tim kelima dari enam rombongan mendatangi desa ajaib ini. Iya memang ajaib! Letaknya yang hanya sekitar 12 km dari puncak Merapi ternyata justru menjadi berkah tersendiri. Pasca erupsi tahun 2010, jumlah wisatawan semakin membludak. Seakan-akan bencana besar erupsi menjadi 'media marketing' tersendiri guna semakin mempopulerkannya. Desa ini cukup terdampak, meskipun tidak masuk ke kawasan rawan bencana (KRB). 
Seorang mahasiswa sedang membajak sawah
Desa wisata yang benar-benar tidak memiliki obyek wisata menjadi keajaiban lain. Demikian yang kami dengar pertama kali dari ketua Pokdarwis disaat menyambut rombongan mahasiswa MKP Pariwisata Undip di rumah Joglo Pentingsari. Tidak percaya, benar-benar tidak percaya, bapak ini pasti sedang bercanda pikir saya. Bagaimana mungkin desa wisata, sekali lagi labelnya adalah 'desa wisata' tetapi tidak memiliki obyek wisata. Antara merasa tidak percaya dan merasa 'rugi' mengunjungi, itu awal impresi saya atas desa wisata ini. Meskipun sebenarnya penjelasan itu cukup berseberangan dengan informasi yang beredar di internet seperti yang ditulis di desawisatasleman.wordpress.com. Webblog itu menginformasikan sedikitnya ada 8 obyek wisata di dalamnya seperti pancuran suci sendangsari.

Bermain lumpur

Jam 10.00 selesai briefing, kami langsung mendapatkan pembagian homestay. Menaruh beberapa pemberat badan di kamar kami masing-masing, bertemu bapak/ ibu pemilik homestay sekedar berkenalan dan beramah tamah, kami langsung memulai kegiatan pertama kami di sini. Instruksi yang diberikan adalah mengganti pakaian dan siap-siap kotor. Bapak Sugeng dan Bapak Waluyo, sebagai pemandu mengarahkan kami melewati kebun mahoni dan sampailah kami di salah satu kubangan air bekas persawahan. Melalui suara kerasnya, Pak Waluyo memerintahkan kami mencari lele sebanyak-banyaknya, diambil untuk kemudian dimasak di homestay. Tentu mereka yang berusia di bawah 30 tahun mendapatkan tugas terhormat ini. Mahasiswa dengan gaya-gaya khas mereka, jeritan merdu khas ibu kota dan jemari-jemari lentik memegang lele menjadi pemandangan yang heboh dan ramai. Tidak sedikit mahasiswa harus terpeleset, berlari, kaget dan respon-respon kocak lainnya. 

Selesai bermain lumpur sambil mencari lele hidup, kami bergeser sekitar 10 m ke arah timur. Di situ kami disuguhi kubangan air yang tidak jauh berbeda dengan kolam lele. Berbedanya adalah di 'wahana' ini kami disodori lapangan basah lengkap dengan bola dan gawang. Bermain bola kami. Dari 23 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini hanya ada 2 laki-laki, yang lain adalah mahasiswi. Teriakan suporter kalah oleh lantunan jeritan para mahasiswi. Mencoba menggiring bola hingga menggendongnya untuk dimasukkan ke gawang. Heboh! sangat heboh. Tidak ada aturan, tidak ada handball, pinalti apalagi kartu merah dan kartu kuning. Sama seperti emak-emak yang naik sepeda motor sambil menyalakan lampu sein kanan namun berbelok sebaliknya. Tidak ada aturan, atau aturannya ada tetapi tinggalah aturan. Tidak jelas grup siapa yang memenangkan perlombaan bola lumpur ini. Yang terdengar hanya teriakan, jeritan dan pekik keras suara mereka.

Persis bersebelahan dengan lapangan sepakbola ada sapi lengkap dengan Bapak pengendaranya. Sontak mahasiswa yang tidak bermain bola langsung mencoba 'ngluku' menyiapkan lahan untuk tanam padi. Hampir sebagian besar mencobanya termasuk saya. Bahkan ada satu mahasiswa yang mendapatkan jackpot berupa pup sapi di saat menunggangi bilah kayu pengendali. Kalau tidak salah Elisabeth, mahasiswa penerima jackpot berharga ini. Pengalaman yang tidak terlupakan sepertinya. Setelah tiga rangkaian permainan lumpur ini kami diajak menyusuri sungai bekas tambang pasir. Menyusuri jalan berliku terjal dan hanya dibantu tambang untuk pegangan. Raut muka ceria berubah menjadi tegang, takut dan tentunya tidak PD untuk meniti jalan berliku. Tetapi syukur alhamdulillah semuanya bisa melewatinya. Jalan terjal ini mengantarkan kami ke sungai dengan air jernihnya, sisa penambangan pasir menghiasi dinding-dinding sungai menjadi pemandangan yang berbeda. Ini adalah akhir dari perjalanan hari pertama kami di Pentingsari.
Share: