Menikmati kopi tubruk Aceh di Puncak Gunung Geuretee

Kali pertama aku menginjakkan kaki di bumi Aceh, langsung terbersit untuk mencoba nikmat kopinya. Di banyak kedai kopi yang menjamur di setiap sudut kota ternyata aku temukan banyak sekali ragam kopi di sini. bukan hanya Gayo yang sangat terkenal itu, hampir di setiap daerah ternyata memiliki kopi khas. Karena perjalananku menuju Meulaboh maka tidak bisa aku coba langsung nikmat kopi Gayo di ladangnya. Tapi tidak mengapa, karena dalam perjalanan ke Meulaboh aku akan disuguhi nikmat kopinya di puncak Gunung Geuretee sambil melihat langsung sunset di Samudera Hindia. Gunung Geuretee ini berada di Kabupaten Aceh Jaya yang bisa ditempuh 2 jam dari Banda Aceh. 

A post shared by sariffuddin (@kelassarif) on

Mendengar promosi dari sopir travel yang khusus mengantarku dari Bandara Sultan Iskandar Muda ke Kota Meulaboh, tertarik juga untuk menyisihkan waktu khusus menikmati kopi Aceh tepat di pinggir samudra hindia, tepatnya di puncak Gunung Geurutee di Kabupaten Aceh Jaya. Sangat kebetulan, untuk mencapai Kabupaten Meulaboh aku harus melewati jalan mulus bantuan para NGO Internasional pasca tsunami yang melintasi Gunung Geuretee ini. Indah alamnya tidak bisa diperdebatkan lagi. Googling saja dengan memasukkan nama Geuretee maka mesin pencari canggih ini langsung akan menyajikan berbagai foto-foto alam indah yang terus membuat decak kagum ingin segera mampir dan berlama-lama di sana. Di sepanjang perjalanan, Pak Sopir selalu memberikan tips-tips jitu agar bisa menikmati alam Geuretee lebih baik yaitu di saat sunset. Langsung terbayang bagaimana menyaksikan secara langsung pancaran merah matahari tenggelam di Samudra Hindia. 

A post shared by sariffuddin (@sariffuddin) on
Tepat Jam 18.00 mobil terparkir di salah satu kedai kopi di Puncak Gunung Geuretee ini. di sini sunset berlangsung pukul 18.30 berbeda dengan di Semarang atau Jakarta, biasanya jam 17.30 sudah memancar warna emas matahari dan membentuk mega. Aku memesan kopi tubruk dan mie Aceh. Bukan inisiatifku sebenarnya, lagi-lagi itu rekomendasi Pak Sopir. Kali pertama memegang gelas berisi kopi, tidak heran aku dibuatnya, tetapi setelah sendok kecil aku masukkan untuk mengaduk, tidak henti-hentinya aku berfikir bagaimana cara meminumnya. Bingung aku dibuatnya karena lebih dari setengah gelas berisi kopi bubuk ditumbuk kasar. Setiap kita meminum langsung dari gelas maka ampas kopi akan langsung menempel di bibir. Sulit sekali, kemudian Pak Sopir memberi tahu aku, caranya adalah dengan membuang terlebih dahulu ampas kopi baru bisa di minum. Namun dibalik usaha keras saya meminum kopi ini, ternyata rasanya belum bisa dikalahkan. Aku sudah banyak sekali keluar-masuk warung kopi tradisional maupun modern di Kota Semarang mau Jakarta, dan semua itu belum ada yang bisa mengalahkan kopi di Puncak Gunung Geuretee ini.

A post shared by sariffuddin (@sariffuddin) on
Sensasi kecut after teste pait kopi sangat kuat dan mendominasi. Nikmat sekali. Di tambah minum kopi sambil menikmati desir ombak samudra hindia dari kejauhan. Mata kita akan dimanjakan oleh hijaunya ladang pertanian dan batu-batu karang raksasa. Menambah semakin 'romantisnya' perjalanan dan suasana. Bagi yang mengajak pasangan, ini adalah spot teromantis tanpa ada sedikitpun yang bisa disangkal. Sedikitnya ada 15 lapak warga berdiri tepat di tebing yang disokong oleh banyak sekali tiang kayu penyangga. Namun, jangan sekali-sekali meninggalkan makanan, snack, dan handphone begitu saja. Banyak monyet-monyet nakal bergelantungan yang setiap saat menyerobot dan menjatuhkannya. Mereka hanya takut sama pemilik warung. 


Ilustrasi (dokumentasi pribadi)
Di sini, di tanah rencong, kedai kopi menjadi bagian kehidupan mereka. Sebelum menjamurnya 'wabah' kopi di pulau jawa, di sini sudah berdiri kedai-kedai kopi yang menawarkan berbagai varian olahan. Tidak hanya tubruk, kopi tarik seperti yang ada di Malaysia juga sangat mudah kita dapatkan. Dan yang baru trend saat ini adalah esperso racikan tradisional. Benar-benar menjadi bagian dari kehidupan warga, mau santai, rapat di tempat kerja hingga menerima tamu semuanya sering dilakukan di kedai kopi. Jika beruntung, disaat musim durian, kita juga akan mendapatkan tawaran buah ajaib ternikmat ini. Murah, jauh lebih murah dibandingkan di Jawa. Pernah aku membelinya hanua Rp. 24.000,- untuk tiga biji tanpa zonk.

Share:
Location: Aceh Jaya Regency, Aceh, Indonesia