,

Sektor informal perkotaan: bukti kegagalan para perencana kota?

latinamericanstudies.org
Ada anggapan bahwa merebaknya sektor informal perkotaan merupakan bentuk kegagalan para perencana kota. Tuduhan ini muncul karena para perencana tidak mampu mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan informalitas kota. Munculnya sektor informal ini tidak terlepas dari modernisasi dan urbanisasi perkotaan dan kesenjangan tingkat pendapatan masyarakat kota. Kalau dikaitkan dengan Indonesia, kondisi ini berhubungan dengan pesatnya arus urbanisasi. 

Terdapat 3 pendapat yang melatarbelakangi munculnya sektor informal perkotaan. Pertama karena tidak berimbangnya hubungan desa-kota. Tidak berimbangnya hubungan ini dipengaruhi oleh layanan infrastruktur dan pelayanan perkotaan, sehingga masyarakat pedesaan berbondong-bondong meninggalkan desanya untuk ‘beradu nasib’ di perkotaan sebagai pedagang hasil pertanian mereka ke kota. Kedua, berhubungan dengan ekonomi subsisten dan sekaligus sebagai konsekuensi transformasi masyarakat perkotaan. Terutama perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Pola ekonomi subsisten ini melibatkan anggota keluarga yang dianggap ‘sukses’ di kota yang kemudian mengajak sanak keluarganya untuk ikut ‘berbisnis’ di perkotaan. Ketiga, berhubungan dengan pola transformasi masyarakat kota atau the mode of urbanization. Industrialisasi yang terjadi di perkotaan menjadi penarik bagi masyarakat desa untuk turut mendapatkan ‘kesejahteraan’ yang lebih baik. 

Sektor informal menjadi paradok ilmu perencanaan dan pembangunan kota. Dikatakan paradok karena merebaknya sektor informal ini berada di negara berkembang, sedangkan penelitian serta metode-metode yang berkembang untuk mengendalikannya berada di negara maju. Disamping itu, dikatakan paradok karena adanya keyakinan bahwa sektor informal menjadi salah satu ‘model’ perekonomian kota yang resilience (berketahanan). Ini terbukti di saat adanya krisis global yang melanda perbankan, sektor ini tetap saja eksis dan tidak terpengaruh sama sekali. Namun, dibalik ‘resilient-nya’ sektor ini, mereka banyak menyita ruang-ruang publik perkotaan seperti taman, trotoar hingga badan jalan.

Bagaimana solusi bagi perencanaan kota di Indonesia? Kalau kita merujuk pada ‘the mode of urbanization’ maka dapat dikatakan adanya proses modernisasi yang sedang berlangsung dan salah satunya melalui sektor informal ini. Maka apa yang harus dilakukan? Mengakomodasi sektor informal ini di dalam perencanaan kota dan wilayah, terutama di dalam perencanaan tata ruang. Tidak perlu adanya ruang khusus, tetapi bisa memanfaatkan ruang-ruang publik dengan pengendalian dan monitoring ketat oleh pemerintah. 
Share: