Segitiga Manajemen Proyek: Konsekuensi Mutu Pekerjaan yang Terlupakan

dreamstime.com/
Banyak pemimpin yang tidak memahami segitiga manajemen proyek sebagai konsekuensi mutu pekerjaan. Segitiga manajemen proyek (triangle project management) ini sebenarnya sangat popular untuk orang-orang yang bekerja di bidang manajemen perusahaan dan proyek. Tetapi tidak jarang pula yang mengabaikannya.

Segitiga manajemen proyek ini sebenarnya hubungan antara BIAYA-MUTU-WAKTU atau disingkat menjadi BMW. Istilah aslinya adalah SCOPE-SCHEDULE-COST yang merepresentasikan lingkup pekerjaan, waktu pengerjaan dan biaya yang diperlukan. Ada pula yang menyederhanakan hubungan itu menjadi FAST-GOOD-CHEAP. Dibalik hubungan tiga aspek itu, sebenanya ada 3 hubungan berlawanan yang juga harus dipahami. Setiap pelaksana pekerjaan tidak bisa memenuhi ketiga aspek itu secara bersamaan. Paling banyak hanya 2, sehingga menimbulkan hubungan perlawanan sebagai berikut:

  • Jika pekerjaan ingin CEPAT dan BAGUS maka tidak bisa MURAH,
  • Jika pekerjaan ingin CEPAT dan MURAH maka tidak bisa BAGUS, dan
  • Jika pekerjaan ingin MURAH dan BAGUS maka tidak bisa CEPAT.

Konsekuensi logis itu harus dipahami oleh seorang pemimpin, agar dia bisa membagi tugas secara bijak dan adil. Adil dalam pekerjaan itu sebenarnya simple yaitu bisa mendistribusikan tiga aspek segitiga manajemen proyek itu ke seluruh karyawan atau pekerja di bawahnya. Dia harus mampu menjamin agar pekerjaan yang dinahkodai bisa CEPAT, BAGUS dan MURAH dengan melibatkan seluruh karyawannya secara bijak dan bermartabat.

Jangan sekali-sekali memplokoto, yaitu orang yang dinilai rajin terus diberikan beban, sedangkan orang yang dinilai tidak rajin justru tidak diberikan pekerjaan. Mungkin di lingkup perusahaan swasta, kondisi ‘memplokoto’ itu tidak terjadi karena lebih jelas manajemen manusianya. Tidak bisa bekerja, pecat saja. Tetapi berbeda kondisinya di lembaga pemerintah seperti PNS. Akan sangat sulit memecat PNS hanya karena kinerjanya tidak produktif. Tetapi tidak benar juga jikalau manajemen justru menciptakan generasi bolodupak, yaitu staf sapu jagat. Artinya pekerja ‘multi talent’ yang bisa mengerjakan segala hal dalam waktu cepat, kualitas bagus dan biaya murah, atau mungkin tidak usah di bayar.

Penciptaan generasi seperti ini, tentu bukan ciri manajemen yang sehat. Karena ada titik jenuhnya, tidak bisa seseorang bekerja di bawah tekanan. Jika pekerjaannya tidak memuaskan pimpinan maka kinerjanya dianggap buruk dan sebagainya. Sedangkan seorang leader tidak berusaha sama sekali untuk menggali opini, persepsi dan kepuasan bawahan terhadap pimpinKonsekuensi logis itu harus dipahami oleh seorang pemimpin, agar dia bisa membagi tugas secara bijak dan adil. Adil dalam pekerjaan itu sebenarnya simple yaitu bisa mendistribusikan tiga aspek segitiga manajemen proyek itu ke seluruh karyawan atau pekerja di bawahnya. Dia harus mampu menjamin agar pekerjaan yang dinahkodai bisa CEPAT, BAGUS dan MURAH dengan melibatkan seluruh karyawannya secara bijak dan bermartabat.

Jangan sekali-sekali memplokoto, yaitu orang yang dinilai rajin terus diberikan beban, sedangkan orang yang dinilai tidak rajin justru tidak diberikan pekerjaan. Mungkin di lingkup perusahaan swasta, kondisi ‘memplokoto’ itu tidak terjadi karena lebih jelas manajemen manusianya. Tidak bisa bekerja, pecat saja. Tetapi berbeda kondisinya di lembaga pemerintah seperti PNS. Akan sangat sulit memecat PNS hanya karena kinerjanya tidak produktif. Tetapi tidak benar juga jikalau manajemen justru menciptakan generasi bolodupak, yaitu staf sapu jagat. Artinya pekerja ‘multi talent’ yang bisa mengerjakan segala hal dalam waktu cepat, kualitas bagus dan biaya murah, atau mungkin tidak usah di bayar.

Penciptaan generasi seperti ini, tentu bukan ciri manajemen yang sehat. Karena ada titik jenuhnya, tidak bisa seseorang bekerja di bawah tekanan. Jika pekerjaannya tidak memuaskan pimpinan maka kinerjanya dianggap buruk dan sebagainya. Sedangkan seorang leader tidak berusaha sama sekali untuk menggali opini, persepsi dan kepuasan bawahan terhadap pimpinan. Tidak ada jembatan antara pihak atas dan pihak bawah. Tidak ada demokrasi di dalam pekerjaan.

Saya rasa ini menjadi agenda baru, yaitu menciptakan ‘demokrasi dalam bekerja’ bukan hanya demokrasi di dalam menyampaikan pendapat, gagasan, dan lainnya. Tetapi lebih pada upaya bersama secara inklusif untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu lembaga, organisasi hingga negara. Tidak ada jembatan antara pihak atas dan pihak bawah. Tidak ada demokrasi di dalam pekerjaan.

Saya rasa ini menjadi agenda baru, yaitu menciptakan ‘demokrasi dalam bekerja’ bukan hanya demokrasi di dalam menyampaikan pendapat, gagasan, dan lainnya. Tetapi lebih pada upaya bersama secara inklusif untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu lembaga, organisasi hingga negara.

Artikel ini juga dapat dilihat pada kompasiana.com
Share: