Mengenal ruang biru dalam rencana tata ruang

sains.kompas.com/
Tata ruang biru (blue space) di dalam penataan ruang di Indonesia mulai santer diperbincangkan. Banyaknya daerah rawan banjir seperti Jakarta, Semarang, dan kota besar lainnya menjadikan para ahli hidrologi memutar otak mencari solusinya. Selama ini mereka lebih mengandalkan mekanisme rekayasa (engineering) dengan membuat kanal, kolam retensi dan polder.

Di awal tahun 2014 ini, gagasan ini kembali muncul dari seorang ahli dari LIPI bernama Pak Jan Sopaheluwakan. Dimana gagasannya di muat di dalam Kompas yang di beri judul: Inilah Wajah Jakarta Impian yang Bebas Banjir Gagasan LIPI. Memang ide dasar Pak Jan ini tidak murni ruang terbuka hijau tetapi juga memuat rekayasa sosial berupa penarikan kembali masyarakat kelas menengah untuk tinggal di pusat kota. Agar konversi lahan dan pertumbuhan kota daerah pinggiran dapat terkendali.

Baik, kembali ke topik. Meskipun ide ini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Tetapi menjadi satu gagasan yang santer dibicarakan mengingat semakin ‘menggemuknya’ kota-kota besar di Indonesia dan dikhawatirkan semakin sempitnya ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air. Jadi. ruang terbuka biru ini diharapkan menjadi daerah tangkapan air sebagai pengendali banjir.

Apakah sudah ada best practice di Indonesia? Tidak usah jauh-jauh belajar di negara tetangga ataupun di Eropa yang kono kabarnya ada satu kota yang berada di bawah permukaan air laut. Cukup kita menelisik salah satu kota ternyaman di Indonesia yang dinobatkan oleh IAP (Ikatan Ahli Perencana Indonesia). Ya.. Balikpapan. Kota ini telah menerapkan tataruang biru dengan memasukkan Bendali (bendungan pengendali) banjir di dalam rencana tata ruang wilayah mereka.

Meskipun kode zonasinya masih mengikuti zona ruang terbuka hijau (RTH), tetapi Kota Balikpapan telah memiliki satu langkah lebih maju dibandingkan kota-kota besar lainnya. Inovasi teknokratis dan politis yang cukup berani dan telah mereka masukkan di dalam peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah Kota Balikpapan.

Bagaimana ruang terbuka biru ini bekerja?

Prinsip kerja ruang terbuka hijau sebenarnya adalah sama dengan polder maupun kolam retensi. Bahasan khusus mengenai bendali dapat di baca pada artikel yang ditulis oleh Agoeng Widodo yang berjudul kendalikan banjir dengan bendali. Ruang terbuka biru ini berfungsi menerima limbahan air hujan yang tidak terserap oleh tanah untuk dikumpulkan sementara yang kemudian bisa di lepas ke sungai sekitar atau justru di resapkan ke dalam tanah.

Ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru bisa diintegrasikan. Satu zona memiliki 2 fungsi yaitu sebagai RTH dan juga sebagai RTB. Di saat tidak terjadi hujan, ruang ini berfungsi sebagai RTH lengkap dengan fasilitas bermain dan rumput. Namun di saat hujan datang, zona ini berfungsi sebagai tempat penampungan air yang kemudian secara alami akan meresap ke dalam tanah.

Artikel ini juga dapat dilihat pada kompasiana.com
Share:
Location: Indonesia