Apa itu Kota Tangguh (resilience city)?

ramblingsonrenewableenergy.blogspot.com/

Sudut pandang mengenai kota tangguh (resilience city) cukup beragam yang dipengaruhi oleh disiplin ilmu para penelitinya. Metafora kota tangguh banyak dikaitkan dengan upaya mitigasi bencana, adaptasi terhadap perubahan iklim dan menjaga stabilitas perekonomian perkotaan. 

Maraknya pemikiran baru ini sebagai upaya menjawab ketidak pastian nasib kota di masa mendatang dan respon berbagai persoalan global yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap keberlanjutan kota. Dalam kaitannya dengan perencanaan dan desain perkotaan, konsep kota tangguh dari para pemikir ekologi (urban ecology) memiliki persamaan dengan prinsip perencanaan kota yaitu ’struktur’ dan ’fungsi’. 

Para ahli ekologi memandang kota sebagai ekosistem tempat interaksi organisme (manusia termasuk di dalamnya) dengan lingkungan sekitarnya. Ekosistem sendiri juga memuat ’struktur’ dan’fungsi’, struktur mengindikasikan sistem interaksi sedangkan fungsi menunjukkan peran masing-masing elemen dalam sistem itu. Kota juga terbentuk oleh struktur ruang perkotaan yang ditunjukkan oleh hubungan infrastruktur dan fungsi aktivitas perkotaan. Hubungan ini disebut sebagai hubungan sirkuler antara isi (content) dan wadahnya (container). 

Untuk mewujudkan kota tangguh terdapat 2 model yang dapat ditempuh yaitu (1) model stabilitas atau keseimbangan (equilibrium) atau sering juga disebut isolasi dan (2) model bukan keseimbangan (non-equilibrium). Di dalam paradigma stabilitas atau keseimbangan (equilibrium), ketahanan diartikan sebagai kemampuan suatu sistem untuk kembali ke titik keseimbangannya seperti sedia kala. 

Ini menunjukkan adanya satu titik absolut yang dijadikan acuan, jika terdapat distorsi/ melenceng maka harus dikembalikan pada kondisi semula. Pola pikir ini banyak ditemui pada literatur-literatur 30 tahun yang lalu. Di sisi lain, sudut pandang ketidak seimbangan (non-equilibrium) mengartikan ketahanan sebagai kemampuan sistem untuk menyerap dan mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan hidup. Konsep adaptasi muncul pada konsep pemikiran ke dua ini (non-equilibrium). 

Dua model ketahanan kota ini berlaku dalam upaya mengantisipasi setiap ancaman (disturbance) kota. Konsep pemikiran keseimbangan (equilibrium) banyak digunakan para pakar kebencanaan. Mereka membagi masa bencana ke dalam 3 masa yaitu (1) pra bencana, (2) tanggap darurat, dan (3) pasca bencana. 

Pada masa ke tiga (pasca bencana) dilakukan proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi kota pasca bencana seperti semula. Kata kunci yang muncul pada metafora ini adalah mitigasi bencana. Beda halnya dengan konsep pemikiran tidak seimbang (non-equilibrium), kota dikatakan bertahan jika sistem perkotaan mampu menyerap setiap tekanan/ ancaman yang diterimanya. Sistem kota bekerja sangat luwes dan fleksibel untuk menerima tekanan. Kata kunci yang muncul dari metafora ini adalah adaptasi.
Share: