Suasana pedesaan sepanjang perjalanan itu ada di Kopeng

Libur panjang datang lagi, setelah ujian semester sekolah dan Natal tahun 2018 ini, aku rasa tidak ada salahnya jika kita manfaatkan untuk berlibur. Jangan hanya menikmati liburan di destinasi yang kita tuju, tidak ada salahnya jika kita juga menikmati perjalanannya, Nah..bagi kamu yang tinggal di Kota Semarang dan ingin bepergian ke Jogja, aku rasa ini jalur alternatif yang perlu banget di coba, yaitu jalur Kopeng. Cukup longgar, jauh dari kemacetan di tambah sejuk angin pegunungan. Sesekali matikan AC mobil dan biarkan udara luar masuk ke setiap sudut kabin mobilmu. Udara dingin pegunungan serasa AC bersuhu 21°C, dan memang segitu rata-rata suhu di siang hari. Lebih dingin dibandingkan suhu AC di kantor yang sering diatur sekitar 22 - 23°C setiap menjelang tengah hari. Bisa kita bayangkan untuk pagi dan malam hari, tentu akan jauh lebih dingin. Pengalamanku sendiri yang pernah menginap di daerah Pakis, suhu udara di malam hari bisa mencapai 7°C, 2 jaket tebal baru bisa menghangatkan tubuh kala itu. Namun khusus siang hari, ini justru anugrah tersendiri. Segar.
Suasana Pedesaan Kopeng
Jalur yang cukup sepi, jarang sekali ditemui bus-bus besar dan truk-truk pengangkut pasir seperti yang sering kita jumpai di jalur utama Semarang-Jogja. Hanya beberapa minibus berukuran sedang dan sesekali truk tanpa muatan melintas. Kebanyakan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Bagi orang-orang Salatiga dan Kota Magelang, ini adalah jalur favorit mereka, potong kompas, demikian biasanya mereka menyebut untuk jalur pintas. Memang tidak diragukan lagi keindangan alam pegunungan yang terletak di kaki Gunung Merbabu ini. Jika kamu beruntung yaitu disaat cuaca cerah tanpa kabut kita akan bisa menyaksikan 4 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Ungaran dan Gunung Sumbing. Di saat kamu masuk ke jalur ini dari arah Salatiga, kamu bakal langsung disuguhi berbagai hotel dan vila di sisi kanan dan kiri jalan, setelahnya di sebelah barat akan terlihat jelas Gunung Ungaran, kemudian secara berurutan akan terlihat Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan terakhir sebelum masuk Magelang akan tampak Gunung Merapi. Setiap gunung muncul seakan menyambut perjalananmu. Kondisi jalan yang memang sudah beraspal, jarang ditemukan lubang menjadikan perjalananmu bakal lebih asik.

Jangan terlalu laju kendaraanmu. Pelankan sedikit, nikmati keindahan alam pegunungan. Setelah Kopeng kita akan masuk ke Desa Ngablak, ini merupakan desa paling ujung di Kabupaten Magelang yang berbatasan langsung dengan Kota Salatiga. Di puncaknya kita akan mendapati satu tempat yang unik terbuat dari bambu disusun bertingkat, kita bisa menaikinya untuk menikmati view pegunungan dari atas bukit. Cukup menyita tenaga, kita harus meniti anak tangga berwarna-warni kemudian di sebelah kanan akan kamu jumpai pintu masuk menuju pertapan yang terbuat dari bambu ini. View-nya sangat indah, Masyarakat setempat menyebutnya Pertapan Surogendero. Jangan lupa kamera disiapkan untuk mengabadikan pemandangan dari atas bukit. 

Suasana pedesaan sepanjang perjalanan itu ada di sini, Kopeng. Sering banget kita bakal menemukan orang-orang lokal membawa hasil bumi berupa sayuran yang akan mereka bawa ke pasar. Kitapun bisa membelinya dengan harga yang masih murah, langsung dari para petani. Jangan heran kalau banyak ibu-ibu menggendong sayuran yang diikat super jumbo, menyusuri jalanan berbatu hingga ke pasar. Itulah mereka. 

Untuk mencapai lokasi ini, sangat disarankan menggunakan kendaraan pribadi entah mobil atau sepeda motor. Jika hanya ingin solo traveling, aku rasa motor adalah pilihan terbaik, kita bisa berhenti di setiap spot photogenic, sekedar melepas lelas sebentar dan foto sana-foto sini, upload sana dan upload sini. Jaringan 4D sangat lancar, bagi kamu pengguna Telkomsel, aku belum coba untuk provider lain ya. Jadi meskipun di atas bukit pedesaan yang jauh dari perkotaan kita tetap stay connected Instagram, blog, dan media sosial lainnya. Jadi jangan khawatir, kita bisa bikin live report langsung kok di sini. Meskipun aku merekomendasikan menggunakan kendaraan pribadi, bagi kamu yang ingin memanfaatkan kendaraan umum juga bisa. Sangat mudah, bagi yang melakukan perjalanan dari Semarang, kamu bisa berhenti di Kota Salatiga kemudian cari saja bus-bus kecil ke arah Kota Megalang. Begitupula sebaliknya, bagi yang dari Kota Magelang (termasuk Jogja) yang ingin ke Salatiga dan Semarang bisa naik bus yang sama dari terminal Soekarno-Hatta Magelang dan pasti akan melewati jalur ini. Tarif-nya tidak mahal sekitar Rp. 10.000,-. 

Bagi yang ingin ngirit, no-budget, ada lho alternatif lain yaitu numpang truk pengangkut sayuran orang setempat yang sering banget datang saat pagi hari di Semarang (depan Javamall) sekitar jam 03.00 pagi mereka bongkar muatan dan jam 06.00 biasanya sudah mulai kembali ke desa. Orang-orangnya sangat baik, bisa dipastikan bakal tidak akan menolak jika ingin menumpang. Meskipun begitu sangat disarankan tetap memberi uang ongkos seperlunya sekedar untuk membeli rokok dan minum teh anget. 

...
Share:

Lepas penat di Sendang Sikucing, Kendal

Terbayar setelah 1 jam bermotor dari Kota Semarang menuju Weleri, Kendal. Seluruh penat selama perjalanan di bawah terik matahari akhirnya lepas setelah menginjakkan kaki di pasir Pantai Sendang Sikucing. Murah tiketnya yang hanya Rp 5.200,- sudah bisa mengobati seluruh penasaran kecantikan alam pantai utara jawa. Biru langit bertemu dengan birunya samudra menjadi framing cakrawala lensa. Ambil foto dari berbagai sudut, seluruh aktivitas wisatawan hingga penjual dan memang asik.

Kali ini aku tidak sendiri, berlima bersama mahasiswa Sekolah Vokasi PWK Undip. Kebetulan 2 diantara mereka adalah orang asli Kendal, yang rumahnya tidak jauh dari obyek wisata ini. Mereka berempat inilah yang menjadi 'marketing' memasarkan Sendang Sikucing ke aku, membuat penasaran saja. Sebenarnya ada 3 destinasi wisata pantai di sini yaitu Sendang Sikucing, Pantai Cahaya dan Sendang Asih. Khusus Pantai Cahaya harus membayar sejumlah uang yang cukup mahal (sekitar Rp. 40.000,-) sedangkan untuk Sendang Asih masih gratis. Pantai cahaya dikelola oleh swasta, tentu jauh lebih atraktif dan banyak wahana di sana termasuk lumba-lumba. Tetapi kami memutuskan cukup ke Pantai Sendang Sikucing, selain murah kita ingin melihat secara langsung pantai yang asli, belum ada sentuhan pembangunan berarti. Justru masyarakat setempat bersama pemerintah daerah bersama-sama berkolaborasi mengelola pariwisata bahari ini. Selain berwisata kami juga menemui pengelola DTW Sendang Sikucing Bapak Rozi. Berbincang sebentar mengenai seluk beluk Sendang Sikucing kemudian kami melanjutkan explorasi.

Gerbang masuk Sendang Sikucing
Sebelum mengeksplorasi Sendang Sikucing yang masih asli, tanpa ada perubahan bentang alam yang berarti kami sempatkan mencicipi pecel-lontong khas Sikucing. Tidak jauh berbeda dengan pecel pada umumnya sebenarnya, yang membedakan adalah cara membuatnya. Bumbu kacang diuleg langsung disaat kita memesan pecel sehingga kita bisa minta pedas atau tidak pedas sesuai selera konsumen. Ditambah berbagai gorengan, krupuk dan kopi sasetan. Nah ini yang mungkin perlu diperbaiki, hanya mengandalkan kopi saset yang rasanya standar begitu-begitu saja. Meski begitu, suasana liburan di pantai tidak terganggu, tetap saja asik, penuh canda dan tawa. Ditambah guyonan khas milenial mahasiswa yang sedikit membuli temannya hingga tersipu malu hingga wajah memerah. Selepas makan pecel, langsung menuju saung yang berada tepat di depan warung makan menghadap laut. Udara panas pantai menjadikan hari ini begitu melelahkan, merebahkan bada di atas terpal dan mata mulai terpecam. Tetapi, lagi-lagi candaan seakan menjadi alarm yang selalu membangunkan kami, selalu menuntut mata agar tetap terbuka dan bersaut-sautan menimpali setiap canda tawa. Seru!
Saung berteduh yang sederhana
Kesan sederhana sangat melekat namun dibalik itu ada inklusivitas yang tinggi antara pemerintah daerah selaku pengelola destinasi wisata dengan masyarakat. Lihat saung berteduh di tas yang dilengkapi dengan terpal baik sebagai alas duduk maupun atap. Gratis, tidak perlu bayar jika hanya ingin berteduh sambil melihat birunya cakrawala laut jawa. Bagi yang mau berenang bisa menyewa ban mobil yang tertumpuk rapi di sebalah kanan dan kiri saung. Harganya sekitar Rp. 5.000,- hingga Rp. 10.000,- tergantung ukuran ban yang bisa digunakan sepuas hati kita. Selain saung ada juga para penjaja makanan, warung-warung yang berjejer memanjang, mereka adalah masyarakat setempat yang sudah bertahun-tahun berjualan di sini. Aneka barang dagangan mereka jajakan dari makanan hingga ikan asin yang bisa kita bawa pulang. Belum ada penjaja kerajinan tangan khas Sikucing yang kami temui. Tidak tau kalau di hari sabtu atau minggu dimana puncak wisatawan berkunjung. 
Pasir Sendang Sikucing


Pasir pantainya memang tidak berwarna putih, tetapi kita tetap bisa bersenang-senang dengan mainan alam ini. Membuat lubang sedalam-dalamnya kemudian kita kubur kaki atau mungkin justru seluruh badan ke dalam pasir. Aku sih tidak melakukannya, tetapi aku menemukan beberapa anak-anak melakukan dolanan ini. Membuat lubang kemudian mereka membenamkan tubuhnya ke dalam pasir. Panas terik matahari tidak mereka hiraukan, tetap saja berlarian kesana-kemari sambil teriak memanggil teman-teman lainnya untuk bermain. Tidak jarang juga aku menemukan lubang-lubang pasir yang sengaja dibuat sebagai jebakan. Di atas lubang pasing mereka tutup dengan daun agar tidak terlihat kalau ada lubang, kemudian dikala ada wisatawan lain terjebak ke dalam lubang itu mereka tertawa terbahak saling bersautan. Seru rasanya dunia mereka yang jahil ini!. Meskipun jebakan, tetapi permainan ini tetaplah aman, tidak terlalu bahaya justru menambah keseruan dan menjadikan interaksi antar pengunjung pantai yang tadinya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Di saat sudah jenuh dan penat dengan suasana di daeratan kita bisa menyewa kapal wisata milik para nelayan untuk mengantarkan kita ke tengah lautan. Berlayar saja sekitar 30 - 45 menit dengan harga kurang lebih Rp. 10.000,- perorang yang mampu menampung 8 - 10 orang. 

Kapal Wisata Sendang Sikucing
Share:

Menunggu senja di kota lama

Awalnya ingin menyelesaikan tulisan opini kota yang ditugaskan grup angkatan ke aku, tetapi akhirnya malah berubah hasilnya. Mencari ide dengan mendekati polder tawang, melihat bagaimana sistem polder di bangun untuk kota yang sering mendapat julukan 'Semarang kaline banjir' ini. Letaknya yang tidak jauh dari Kota Lama, menjadikan aku tidak sabar menginjakkan kaki, menghirup udaranya dan tentu hunting foto. Dan... sampailah senja hari, masih di sini, dan justru tulisan ini yang bisa aku bagikan.

Aku rasa tidak sedikit ulasan mengenai Kota Lama Semarang ini, banyak banget. Mau blog hingga hasil riset para pakar heritage maupun para ahli arsitektur kota pasti sudah banyak tersebar di internet. Tinggal searching saja di google pasti bermunculan dari yang hanya sekedar menampilkan foto-foto Kota Lama, Gereja Blenduk hingga teori-teori yang mampu ditelurkan oleh para doktor-doktor pakar perkotaan dan arsitektur. Tidak hanya, itu Pemerintah Belandapun cukup andil melestarikan kota bersejarah ini, coba saja klik link ini Semarang.nl, kamu bakal disuguhi informasi Kota Semarang. Paling banyak informasi Kota Semarang di masa lalu, sebelum penjajahan hingga masa-masa pendudukan pemerintahan Belanda. Komplit banget. Tidak ada ruginya berselancar di website itu sekedar bertamasya melihat kondisi Kota Semarang tempo doeloe. 

Dan saat ini Kota Lama sedang bersolek, berdandan, dipugar dimana-mana, jalan yang tadinya rusak diperbaiki. Tembok yang mengelupas catnya, dipermak ulang hingga bener-bener cling dan photogenic banget. Lokasinya yang memang rawan tenggelam oleh banjir dan rob, menjadikan infratruktur perkotaannya duh.. menyedihkan, gampang banget rusak. Hari ini, aku kesini untuk yang kesekian kalinya, tetap saja eksotis, dan indah.

Aku mulai perjalananku dari Polder Tawang, dimana halte BRT (Bus Rapid Transit) berhenti. Oh ya, untuk menjangkau lokasi ini sangatlah mudah, kita bisa memilih BRT koridor 2 jurusan Sisemut (Ungaran) - Terboyo. Tarifnya sangatlah murah, cuma Rp. 3.500,- untuk orang dewasa dan cuma Rp. 1.000,- untuk anak-anak dan pelajar. Disebut Polder tawang karena memang letaknya tepat di depan stasiun tawang. Dibangun pada tahun 1998 oleh Kementerian Pekerjaan Umum berfungsi sebagai sistem pengendali banjir Kota Semarang, khususnya di daerah kota lama. Air hujan dan air limpasan di daerah Kota Lama akan ditampung oleh Polder dengan luas kurang lebih 1 ha ini. Sebelum menjadi polder, lahan ini berfungsi sebagai taman dan 'terminal' angkutan umum perkotaan, ngetem di sini.

Polder Tawang, 15 Desember 2018
Setelah menghabiskan 1 botol air mineral, aku meninggalkan polder ini menuju ke arah barat dimana Kota Lama berada. Melewati jalan Merak dimana pabrik rokok praoe lajar berada. Cukup kaget dibuatnya, pasalnya belum pernah melihat iklan maupun kemasan rokok ini di minimarket apalagi di supermarket besar. Iklan di TV nasional maupun lokalpun lebih banyak di hiasi oleh iklan rokok-rokok mainstream baik yang berasal dari Kudus maupun Kediri. Tentu bisa ditebak, rokok apa yang aku maksud. Melewati depan pabrik ini sekitar jam 2.30 sore, dikala para pekerja bersiap-siap untuk pulang. Mungkin saja khusus hari sabtu, para pekerja tidak bekerja fulltime hingga pukul 16.00 seperti kebanyakan perusahaan/ pabrik di Indonesia. Sisi lain yang menarik dari pabrik rokok ini adalah lokasinya yang berada di Kota Lama, menempati bangunan bekas Maintz & Co perusahaan swasta Belanda yang bergerak di bidang energi. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang membangun jaringan listrik di pulau jawa pada masanya. Setelah proses nasionalisasi perusahaan dimasa kemerdekaan Republik Indonesia, perusahaan ini harus meninggalkan kota tercinta dan beralih fungsi menjadi pabrik rokok praoe lajar ini. Meskipun tidak memiliki iklan khusus, ternyata pabrik ini tetap berdiri, beroperasi dan disinyalir memiliki konsumen setia yang mereka para nelayan yang berada di Pantai Utara Jawa dari Pekalongan hingga Rembang. Pantas saja tidak perlu iklan, ternyata sudah punya pelanggan setia. 

Pabrik Rokok Praoe Lajar Semarang, 15 Desember 2018
Selepas melewati Jalan Merak, aku belok kanan melewati jalan Garuda dan mendapati 2 museum apik dan cukup nyentrik. Pas banget untuk foto-foto. Apik karena emang photogenic banget dan nyentrik karena emang khas. Bener-bener berhadap-hadapan yaitu DMZ (Dream Museum Zone) dengan tiket masuk Rp. 100.000,- kita bisa berfoto-foto sepuasnya di dalam museum ini. Karena tiket yang cukup heh...mahal buat aku sendiri, maka akupun memutuskan untuk tidak masuk, tapi lumayan aku dapet brosurnya. Sedikit mengutip dari brosur yang aku terima, ternyata museum ini menyajikan 3D trict Art Museum dan Original Upside Down yang diklaim terbaik di dunia. Ada seni trik yang menjadikan lukisan 2D menjadi 3D disaat kita berpose dan diambil gambarnya menggunakan kamera. DMZ ini sendiri menawarkan 12 tema menyenangkan bagi pengunjung di semua kalangan dari animasi, komodo, salju hingga rumah miring. Namun maaf, info itu aku dapatkan hanya dari brosur, tidak ada review yang bisa aku berikan. Tepat di depannya adalah Old City yang menawarkan wahana yang sama, yaitu 3D trcik Art Museum, hanya saja harganya lebih murah, Rp. 50.000,-. Bagi aku yang hanya untuk foto-foto tentu ini masih di angka yang gede. 
DMZ (Dream Museum Zone), 15 Desember 2018
Old City 3D Trick Museum
Selesai bertanya-tanya sama SPG cantik yang menawarkan DMZ maupun Old City, aku meneruskan ekplorasiku ke Gereja Blenduk. Tentu sudah banyak informasi mengenai gereja unik ini. Iya, mungkin ini satu-satunya gereja berkubah yang biasanya digunakan untuk masjid-masjid. Tapi di sini justru diaplikasikan untuk gereja. Nama aslinya sih GPIB Immanuel Semarang. Gereja ini merupakan gereja kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda pada tahun 1753. Kenapa menjadi mBlenduk itu hanyalah sebutan masyarakat setempat saja melihat dari kubah bangunan yang mlenduk, atau berupa kubah. Masih aktif digunakan oleh masyarakat setempat lho, terutama ibadah di hari minggu. Tepat di depannya adalah taman bermain lengkap dengan obyek-obyek foto selfie dengan bayaran sukarela. Kita bisa memanfaatkan properti yang disediakan oleh masyarakat setempat seperti sepeda ontel, becak, topi ala noni-noni Belanda dan aneka barang antik yang dijajakan tepat di sebelah timur Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk Semarang, 14 Desember 2018
Taman Srigunting, Depan (sebelah timur) Gereja Blenduk.
Pedagang barang antik Kota Semarang
Dan.. destinasi terakhir aku hari ini adalah Spiegel Cafe & Bistro, bangunan kuno 2 lantai yang sebelumnya dimiliki oleh Herman Spiegel ini tetap diabadikan namanya menjadi Spiegel. Sebelum menjadi cafe, bangunan ini tidaklah terurus, rusak dan benar-benar menyeramkan. Di masanya, di saat kedudukan Belanda, bangunan ini berfungsi sebagai toko serba ada yang menyediakan alat-alat olah raga, tekstil, mesin ketik, hingga furniture rumah tangga. Toko ini berdiri di bawah perusahaan Winkel Maatschappij “H Spiegel” yang dibangun di tahun 1895 oleh Tuan Addler dimana H. Spiegel diangkat menjadi manajer toko. Tepat 5 tahun setelah menjabat sebagai manajer, S. Piegel dapat memilikinya. Gimana rasanya menikmati kopi dibangunan tua? hehe.. rasanya sama saja, pertama masuk langsung request Gayo tubruk dan ternyata tidak tersedia. Karena tidak tersedia kemudian mencoba mencari Kopi Lintong atau minimal Kopi Kintamani Bali, dan ternyata absen dari menu tebalnya. Ya sudah akhirnya mencoba flat white hot tanpa gula, dan rasanya ya sama dengan beberapa coffee latte yang bisa kita nikmati di berbagai tempat di beberapa cafe di sekitar Kota Semarang. Lumayan! Untuk menu makannya aku coba Gogo Tacos, menu yang bener-bener baru dan belum aku rasakan. Aku mendapatkan 2 slice dan hanya bisa aku makan 1 saja. Menu makanan khas Mexico ini terbuat dari sayuran, tomat, sedikit daging, keju dan jagung. Aku pikir rasanya bakal tidak jauh beda sama kebab, eee ternyata enak sih, tapi karena terlalu gede porsinya, jadi nggak bisa habis 2 slices. 
Spiegel Cafe & Bistro
Flat White Hot
Gogo Tacos
Share:

Nusa Penida.... Pulau Eksotik di Bali

Baiklah kakak
dengan hati yang bahagia hari ini gw akan sedikit sharing tentang Bali..
Tulisan ini udah lama banget ngendap di draft blog gue

Yaps, Bali adalah salah satu pulau yang baru gw kunjungi dan ini adalah pertama kali gw ke Bali.. (jangan diketawain ya... :P)

Jadi perjalanan gw dimulai dari adanya undangan nikah teman gw yang ada di Bali..
Undangan itu seperti gw anggap sebagai salah satu jawaban atas dulu rencana kita sewaktu SMA untuk liburan bersama di Bali..
Hahha... selalu ada jalan Allah untuk menjawab janji ya...

Ga pernah salah cita-cita atau harapan itu memang harus diucapkan secara lantang dan kuat sehingga kau bisa menunggu waktu yang tepat sehingga cita cita itu bisa terwujud

Okay,, kita mulai sedikit perjalanan gw di Bali dan sekitarnya. Karena perjalanan gw bukan hanya di Bali pada dasarnya. Gw juga jalan ke Nusa Penida. Nusa Penida adalah pulau yang dekat dengan Bali. Kalau di Nusa Tenggara ibaratnya Gili nah disini namanya Nusa. Gw akui pulau ini sederhana dan juga INDAH bangeeettt... Cocok banget untuk muda mudi yang ingin bulan madu, atau hanya sekedar escape dari kepenatan di kantor and enjoy the trip ( udah sok sokan anak Jaksel belum.. hehe)

Perjalanan Jakarta - Bali

Gw tiba di Ngurah Rai tepat Kamis dini hari karena gw naik flight malam dari Jakarta. Sesampai kami di Ngurah Rai, bandaranya sepi banget ternyata kalau pagi gengs.. dan jarang banget orang yang sengaja bermalam di bandara. Gw kirain kondisi bandara akan sama kaya Soetta yang rame banget orang nginep di bandara ternyata gw salah heehee...

Sampai di Bandara gw bingung nyari jalan keluar bandara, karena memang jalan keluarnya sangat jauh. Kita kira di Bandara kita tidak boleh memesan Go Jack tapi sewaktu pulang gw pesen dan ternyata bisa pesan gojek.

Yang perlu kalian perhatikan di Bali adalah banyak banget orang nyalo. Yaps, mereka akan menawarkan tumpangan dan pesan Go Jack ataupun Grab your Car akan susah sekali disana. Semua tempat wisata akan dibandrol harga mahal banget padahal kalau pakai aplikasi hanya puluhan ribu tapi mereka akan membandrol harga ratusan ribu atau cancel aja..

Hingga pagi kami menunggu di Bandara hingga akhirnya naik calo grab untuk ke Kute waktu itu dengan harga 40 ribu padahal kalau pake aplikasi cuma 20-30 ribu.. Pantai Kuta memang the best place pagi itu.. sambil nyari sarapan kami makan fast food di pinggiran pantai.. padahal gw mau nyari makan yang lewat lewat tapinya temen gw monmaap agak agak high class yang suka kebablasan.. hahahaa...

Perjalanan Menuju Nusa Penida

Perjalanan menuju Nusa Penida kita mulai dari Pantai Kuta menuju Pantai Sanur karena boat menuju Nusa Penida adanya di Pelabuhan Sanur, waktu itu kita naik gocar dengan harga 64 ribu.. untung masih pagi jadi babangnya masih baik.. hehehe
Begitu sampai di Pantai Sanur, benar banyak banget yang outlet yang jualin tiket boat menuju Nusa Penida. Untuk harga tiket sendiri bisa mencapai anatara 75 - 100 ribu untuk lokal dan 150 - 200 ribu untuk bule ( atau turis ). Waktu itu kapal yang kita gunain adalah Angel Billabong. Kapalnya bagus siih walaupun ga mewah tapi bersih dan kondisinya cukup baik, mungkin karena banyak turis mancanegara yang naik sehingga mereka memberikan fasilitas yang baik untuk transportasi ini. Karena memang 80% dari pengguna kapal boat ini adalah bule guys.. dan rasanya pengen banget ngobrol sama mereka ahaha....

Banyak dari mereka yang cerita tentang kisah travelling mereka saat bertemu orang orang di kapal yang mungkin tidak mereka kenal dan baru kenal disana hehhe.. Kebanyakan bule yang ada di kapal gw waktu itu dari German, Sweden, America.. Mantaabb...

Oke perjalanan menggunakan kapal boat menghabiskan waktu lebih kurang 40 menit. Sesampainya kita di pelabuhan Nusa Penida kita langsung ditangkap sama calo calo yang nawarin sewa motor. Karena di dalam pulau ini ga ada "ANGKOT" jadi lebih baik sewa motor karena juga jarak antar wisata itu cukup jauh. Bahkan bule bule yang kece itu juga naik motor atau mereka menyewa jasa trip keliling nusa penida 1 hari sekitar 350 ribuan. Karena gaya backpakeran siih lebih milih sewa motor yang hanya habis sekitar 100 ribu dengan bensin full.

Untuk hostel di nusa penida beragam guys, mulai dari hotel atau penginapan didekat pelabuhan, dekat tempat wisata, atau didepan pantai langsung sehingga bisa menikmati pemandangan sunsets atau sunrises secara langsung juga banyak. Jadi tinggal pilih.. Penginapan disana mulai dari harga 120ribuan/malam sampai harga 500 ribuan/malam atau bahkan lebih.

Perjalanan Selama di Nusa Penida

Perjalanan pertama kami adalah Klingking Beach.. Gw secara pribadi juga ga tau kenapa pantai ini dinamakan klingking beach..Tapi di pantai ini ada tempat escape yang sangat menarik menurut gw, lokasinya harus turun kebawah dan itu menarik banget untuk disinggahi. Kalau mau turun kebawah harus ngantri turun dan dibawah pasti ga terlalu banyak orang. Gw juga ga ngerti kenapa karena waktu itu gw ga ikutan turun.
Perjalanan menuju Klingking Beach mungkin sekitar 1 jaman dari lokasi hotel gw dengan sepeda motor. Perjalanan kesana awalnya jalannya bagus banget, jadi sambil menikmati jalanan lw bisa juga sambil ngobrol di motor kalau lagi honey moon pasti seneng banget deh hehehe.. Tapi ketika mendekati pantai jalanannya rusak parah banget. Gw ga ngerti kalau cuaca pas hujan gimana jalanan itu dan untungnya selama gw disana ga ujan jadi bisa jalan jalan ke semua tempat.
Kembali ke Kelingking Beach, masuk kesana cukup bayar 5000 per orang dan 2000 untuk parkir motornya, jadi kalau berdua palingan cuma abis 12 ribu.


  Source : Dokumentasi Pribadi
Spot Favorit di Pantai Broken Angel



Perjalanannya kemudian kita lanjut ke Broken Beach dan Angel Billabong. Ini adalah pantai terakhir yang kami kunjungi pada hari pertama. Kalau di Kelingking Beach kita masih bisa menikmati pantai pasir putih kalau disini kita ga bisa main air sama sekali.. Pantai ini dikelilingi karang tinggi dengan ombak yang cukup besar.. Gw merasa sangat nyaman disana dengan mendengarkan suara ombak.. Sama seperti perjalanan menuju Kelingking, jalan menuju pantai ini juga rusak parah banget. Sampai kalau naik motor itu bisa keloncat dari motornya. Ga sedikit bule bule yang kelempar dari motor dan luka bahkan kakinya patah. Disini bener bener bagus banget buat menikmati suasana alam. keren banget siihh. pantainya.. Kalau beruntung katanya bisa liat ikan pari yang berenang di pantainya... gw akan sebar beberapa foto disini ya...


Source : Dokumentasi Pribadi
Jadi kita bisa menikmati Sunrise disepanjang pantai menuju Bukit Molenteng

Hari Kedua: Bukit Molenteng


Oke hari kedua ini terlalu banyak fleksibelitas yang kami lalui. Masih banyak tempat yang ingin didatangi, seperti lembongan island, dan juga keliling kota Bali tentunya. Ada yang tidak begitu cocok siih antara gw dan partner gw liburan. Kalau gw lebih suka sightseeing suatu kota pakai jalan kaki, bukan hanya di satu lokasi wisata tertentu kita berfoto lalu habis sudah kita pulang. Tapi juga menikmati hidup seperti penduduk lokal. Tapi naik kendaraan online kadang membuat kita kurang peka terhadap sekitar. Ya tapi tergantung pribadi siih itu. Oke balik lagi ke cerita hari kedua ya...


Perjalanan pertama kita diawali dari pagi banget karena pengen liat sunrise di Pantai atuh dan naik ke Bukit Molenteng niatnya. Tapi karena kita naik motor dan gw merasa kalau jalan disekitar sana tidak ada lampu penerangan jalan akhirnya gw memutuskan ga berani naik motor kalau hari belum agak terang. Minimal jam 5 lah dimana orang orang sudah mulai banyak yang beraktivitas. Akhirnya kita start perjalanan kita jam 5.30 pagi. Hal yang menarik dari tinggal di pulau adalah lw tinggal nentuin aja mau liat sunrise disisi mana dan sunset disisi mana. Karena semuanya pasti keliatan dan jalan besar pasti gampang banget dicari kalau di dekat pantai ( memang perencanaannya seharusnya begitu kan... ). Perjalanan pagi itu dimulai dengan melihat sunrise disepanjang jalan menuju Bukit Molenteng. sempat sedikit berfoto dan mengabadikan pengalaman melihat sunset walaupun bukan dipantai Atuhnya... hehehe....


Perjalanan menuju Bukit Molenteng menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam dari tempat kami menginap. Dan sesuai prediksi gw jalan kesana banyak yang curam dan ga ada penerangan jalan. Jadi jalan terang ya karena rumah penduduk disekitarnya. Kalau sudah mencapai wilayah hutan ataupun bukit yaa jalanannya tidak ada lampu penerangan. Jalan menuju kesana melewati beberapa turunan curam dan juga tanjakan yang curam. Jadi hati hati aja ya gengs.. Tapi jalanan kesana relatif lebih bagus dibandingkan jalanan yang kita lalui untuk mencapai pantai di hari pertama. Rusak tapi ga terlalu parah banget.

Sampai di Bukit Molenteng ada penginapan disana yang ditinggali banyak bule bule. Bentuknya kaya rumah pohon gitu nahh disitu laah spot foto yang paling fenomenal dari Bukit Molenteng itu. Banyak banget pemandangan bagus walaupun ngambil fotonya butuh effort yang luar biasa juga tapi so far liburan kesana menyenangkan abiss.... Btw foto di kiri ini diambil di spot populer di bukit molenteng looh. Untuk sampai ke spot foto butuh kekuatan jiwa dan raga yang luar biasa, karena kita harus menuruni banyak anak tangga dan kemudian naik lagi untuk sampai di spot foto lainnya. Jadi dengan kata lain itu beneran BUKIT guys.. hehehe... Perjalanan yang melelahkan itu tapi terbayar lunas kok dengan kepuasan foto dan semangat melihat air yang bisa dirasakan dari atas. Penasaran siih berapa harga hotel disana... itu pasti tiap malam bisa melihat bulan dan bisa jadi spot paling romantis. Sayang aja di tengah hutan..hahahaha..... Beberapa foto akan gw sebar disini yaa...


Tapi kalau menurut gw kalian harus banget nurunin pantai atuh siih, sayang aja kmrn gw ga kesana karena harus turun tangga lagi kayanya dengkul tidak bersahabat. hehehe.... tapi lain kali kayanya harus banget single day trip kesana.... Siangnya kita melanjutkan perjalanan menuju Bali lagi dengan speed boat dan disana gw jelas melihat banyak bule yang cidera. Jadi kalau memang lokasi itu bisa jadi prospek wisata yang baik alangkah baiknya prasarannya juga segera dilengkapi dan akses menuju kesana diperbaiki lagi.

Gw udah lama nyimpen tulisan ini di draft jadi sayang aja kalau ga kita share disini.... jadi kenang kenangan buat gw juga.. Kalau mau kita rinci berapa pengeluaran gw 2 hari 1 malam disana..

Speed boat menuju Nusa Penida      : Rp. 100.000
Sewa Motor                                      : Rp. 100.000 (full bensin)
Hostel                                               : Rp. 100.000 (perorang)
Makan (inc. air mineral, jajan)         : Rp.   75.000
Masuk ke Klingking Beach              : Rp.     6.000 (perorang)
Masuk ke Angel Billabong               : Rp.     6.000 (perorang)
Bensin                                               : Rp.    12.000
Speed boat balik ke Bali                   : Rp. 100.000

Total                                                 : Rp. 504.000


Akhirnya gw menyelesaikan tulisan ini.. Padahal ini udah hampir 2 bulanan tapi tetep aja ya ga kelar kelar hehhee...



Enjoy fellas :)

   
Share:

Lotek pedotan: jelajah kuliner Magelang

Menjelajah kuliner Magelang, rasanya belum lengkap sebelum menikmati lotek pedotan. Hanya dengan Rp. 10.000,- untuk setiap porsinya, kita sudah bisa menikmati sayuran segar plus bumbu kacang. Bagi yang suka lalapan mentah, sayur mentah tanpa dimasak, ini menjadi alternatif yang patut dicicipi. Termasuk bagi pecinta pedas, kita bisa menentukan sendiri levelnya dengan jumlah cabai rawit setan gede-gede. Selain sayuran, biasanya juga ada gorengan yang dipotong kecil-kecil kemudian kerupuk yang ikut dicampur bersama sambel kacang di cobek raksasa berdiameter lebih dari 30 Cm. Rasanya yang memang membuat kita ingin berlama-lama duduk di korsi bambu khas desa, lengkap dengan dawet cendol manis gula jawa.
Lotek pedotan, Salaman
Suasana desa memberikan nilai tambah kuliner khas Salaman ini. Di belakang warung masih terhampar luas areal pertanian cabai. Di sebelahnya ada tukang potong rambut yang sudah melegenda dan di depannya ada bengkel sepeda motor. Tidak jarang orang-orang yang datang ke warung sederhana ini adalah mereka yang sedang 'mbengkel' atau memang menyempatkan diri ke sini termasuk aku. Benar-benar jauh dari keramaian, masuk sekitar 3 - 4 km dari pusat keramaian Kecamatan Salaman. Menjadikan kuliner satu ini terkenal bukan karena lokasi tetapi kare rasa dan porsi. Jumbo porsinya, satu piring penuh menggunung. Bikin perut penuh terisi. Jangan lupa krupuk udangnya juga patut dicoba.

Nama pedotan sendiri diambil dari nama daerahnya, Pedotan berasal dari kata dasar 'pedot' artinya putus. Kata ini muncul sejak lama, puluhan tahun lalu disaat jembatan penghubung Desa Salaman dengan Desa Teki terputus atau 'pedot'. Kejadian ini dijadikan pengingat oleh masyarakat setempat menjadi nama daerah.
Share:

Strada Coffee: nikmati kopi langsung dari maestronya

Sering sekali mengunjungi cafe yang berlokasi di Jl. Letnan Jenderal S. Parman No.47A, Gajahmungkur, Kota Semarang ini sekedar bertemu teman, 'mengungsi' dari rutinitas dan tentunya bekerja. Meskipun sering bekerja di sini bukan berarti saya adalah barista ataupun karyawan di cafe yang menyajikan aneka kopi nusantara ini. Pertama kali kesini karena ajakan seorang teman yang kebetulan hampir seminggu minimal sekali menguras dompetnya untuk secangkir kopi gayo tubruk. Dari seluruh cafe yang terus tumbuh di daerah Tembalang dan Semarang pada umumnya, memang cafe satu ini patut menjadi salah satu rujukan. Bukan hanya menikmati pahitnya kopi tetapi nyamannya tempat menjadi pilihan tersendiri. 

Menikmati Matcha Latte di Strada Cafe
Setiap kita membuka pintu cafe kita langsung akan menjumpai berbagai peralatan pengolahan kopi dari alat sedu hingga penggilingan kopi. Di sebelah ujung bagian selatan, kita jumpai alat besar sekali, sesekali ada orang yang menggunakannya seperti orang-orang yang bekerja di laboratorium menggunakan mikroskop. Entah apa nama alat ini, saya tidak tahu. Tepat disebelahnya adalah tempat para barista bekerja. Mungkin  dapur atau workshop mereka. 

Jika beruntung, kita juga akan disuguhi video profil Strada dan ownernya yaitu Evani Jesslyn, sang maestro kopi. Di video yang terus diputar berulang kali ini pengunjung disugihi informasi mengenai perjalanan Evali menjalankan usahanya saat memilih kopi, menjadi tamu di berbagai acara TV hingga yang terakhir yaitu menyuguhkah secangkir kopi langsung ke Presiden Joko Widodo di istana negara. Profil yang cukup lengkap!

Khusus saya, yang menjadi menu favorit adalah Matcha latte, kopi Gayo Tubruk dan Stik Pisang. Di kala saya ke sini, selalu saja di antara 3 menu itu yang dipesan. Kopi gayo tubruk di Strada memang tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya rasakan langsung di bumi Aceh tepatnya di puncak Gunung Geurutee Aceh. Di puncak gunung ini, kopi gayo tetap yang nomor 1 dan yang nomor 2 adalah di Strada Cafee. Ini menurut saya. Selalu gayo, di berbagai cafe yang pernah saya kunjungi selalu saya menanyakan apakah menyediakan kopi Gayo? Jika iya, pasti itu yang saya pesan. After taste, rasa kecut, asam khas Gayo belum bisa digantikan cita rasa kopi yang lain. Meskipun kopi lintong dan kopi Temanggung juga memberikan cita rasa yang relatif sama yaitu asam. 

Jam 10.00 pagi hingga 00.00 setiap harinya, cafe ini dibuka. Biasanya mulai jam 11.00 para pecinta kopi silih berganti mulai berdatangan. Harga normal cafe yaitu kisaran di bawah Rp. 50.000,- untuk setiap cangkirnya. Harga pastinya, saya lupa tidak pernah memperhatikan. Yang diperhatikan biasanya hanya total harga saat akan membayar. Jadi khusus review harga bisa digoogling langsung atau bisa cek di go-food. Ada kok. Untuk lokasinya bisa dicek langsung di map bawah ini.



Share:

Belajar dari Pentingsari: desa wisata yang tidak memiliki obyek wisata

Pasti sudah banyak yang membahas desa wisata ini, baik oleh para blogger maupun wartawan. Desa wisata Pentingsari, sebuah desa wisata di kaki Gunung Merapi yang sangat istimewa. Kali ini kami tim dari Semarang bukanlah satu-satunya rombongan yang berkunjung dan menginap, kami adalah tim kelima dari enam rombongan mendatangi desa ajaib ini. Iya memang ajaib! Letaknya yang hanya sekitar 12 km dari puncak Merapi ternyata justru menjadi berkah tersendiri. Pasca erupsi tahun 2010, jumlah wisatawan semakin membludak. Seakan-akan bencana besar erupsi menjadi 'media marketing' tersendiri guna semakin mempopulerkannya. Desa ini cukup terdampak, meskipun tidak masuk ke kawasan rawan bencana (KRB). 
Seorang mahasiswa sedang membajak sawah
Desa wisata yang benar-benar tidak memiliki obyek wisata menjadi keajaiban lain. Demikian yang kami dengar pertama kali dari ketua Pokdarwis disaat menyambut rombongan mahasiswa MKP Pariwisata Undip di rumah Joglo Pentingsari. Tidak percaya, benar-benar tidak percaya, bapak ini pasti sedang bercanda pikir saya. Bagaimana mungkin desa wisata, sekali lagi labelnya adalah 'desa wisata' tetapi tidak memiliki obyek wisata. Antara merasa tidak percaya dan merasa 'rugi' mengunjungi, itu awal impresi saya atas desa wisata ini. Meskipun sebenarnya penjelasan itu cukup berseberangan dengan informasi yang beredar di internet seperti yang ditulis di desawisatasleman.wordpress.com. Webblog itu menginformasikan sedikitnya ada 8 obyek wisata di dalamnya seperti pancuran suci sendangsari.

Bermain lumpur

Jam 10.00 selesai briefing, kami langsung mendapatkan pembagian homestay. Menaruh beberapa pemberat badan di kamar kami masing-masing, bertemu bapak/ ibu pemilik homestay sekedar berkenalan dan beramah tamah, kami langsung memulai kegiatan pertama kami di sini. Instruksi yang diberikan adalah mengganti pakaian dan siap-siap kotor. Bapak Sugeng dan Bapak Waluyo, sebagai pemandu mengarahkan kami melewati kebun mahoni dan sampailah kami di salah satu kubangan air bekas persawahan. Melalui suara kerasnya, Pak Waluyo memerintahkan kami mencari lele sebanyak-banyaknya, diambil untuk kemudian dimasak di homestay. Tentu mereka yang berusia di bawah 30 tahun mendapatkan tugas terhormat ini. Mahasiswa dengan gaya-gaya khas mereka, jeritan merdu khas ibu kota dan jemari-jemari lentik memegang lele menjadi pemandangan yang heboh dan ramai. Tidak sedikit mahasiswa harus terpeleset, berlari, kaget dan respon-respon kocak lainnya. 

Selesai bermain lumpur sambil mencari lele hidup, kami bergeser sekitar 10 m ke arah timur. Di situ kami disuguhi kubangan air yang tidak jauh berbeda dengan kolam lele. Berbedanya adalah di 'wahana' ini kami disodori lapangan basah lengkap dengan bola dan gawang. Bermain bola kami. Dari 23 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini hanya ada 2 laki-laki, yang lain adalah mahasiswi. Teriakan suporter kalah oleh lantunan jeritan para mahasiswi. Mencoba menggiring bola hingga menggendongnya untuk dimasukkan ke gawang. Heboh! sangat heboh. Tidak ada aturan, tidak ada handball, pinalti apalagi kartu merah dan kartu kuning. Sama seperti emak-emak yang naik sepeda motor sambil menyalakan lampu sein kanan namun berbelok sebaliknya. Tidak ada aturan, atau aturannya ada tetapi tinggalah aturan. Tidak jelas grup siapa yang memenangkan perlombaan bola lumpur ini. Yang terdengar hanya teriakan, jeritan dan pekik keras suara mereka.

Persis bersebelahan dengan lapangan sepakbola ada sapi lengkap dengan Bapak pengendaranya. Sontak mahasiswa yang tidak bermain bola langsung mencoba 'ngluku' menyiapkan lahan untuk tanam padi. Hampir sebagian besar mencobanya termasuk saya. Bahkan ada satu mahasiswa yang mendapatkan jackpot berupa pup sapi di saat menunggangi bilah kayu pengendali. Kalau tidak salah Elisabeth, mahasiswa penerima jackpot berharga ini. Pengalaman yang tidak terlupakan sepertinya. Setelah tiga rangkaian permainan lumpur ini kami diajak menyusuri sungai bekas tambang pasir. Menyusuri jalan berliku terjal dan hanya dibantu tambang untuk pegangan. Raut muka ceria berubah menjadi tegang, takut dan tentunya tidak PD untuk meniti jalan berliku. Tetapi syukur alhamdulillah semuanya bisa melewatinya. Jalan terjal ini mengantarkan kami ke sungai dengan air jernihnya, sisa penambangan pasir menghiasi dinding-dinding sungai menjadi pemandangan yang berbeda. Ini adalah akhir dari perjalanan hari pertama kami di Pentingsari.
Share:

Jeep Lava Tour: telusuri erupsi gunung merapi

Sabtu pagi (27 Oktober 2018), empat jeep menjemput kami di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. Bersiap mengantarkan tim menelusuri bekas erupsi Gunung Merapi, dari bangker kaliadem hingga museum mini sisa hartaku. Niat awal sebenarnya ingin menyaksikan eksotisnya sunrise di Gunung Merapi. Harapan besar itulah yang mendorong kami bangun lebih pagi dari jam biasanya. Pukul 03.30 tepat alarm HP mulai berdering, bersiap-siap kurang lebih 30 menit dan menunggu kedatangan jeep di titik kumpul yang sebelumnya telah kami sepakati yaitu di depan Joglo Pentingsari. Ternyata sudah ada 1 jeep merah menyambut kami tepat di pintu gerbang joglo, kemudian disusul ketiga jeep lainnya. Suara gemuruh khas mesin ber CC besar mulai menggetarkan pagi yang berkabut. 


Setiap jeep diisi oleh maksimal 4 penumpang dan 1 sopir. Jeep merah dimana kami menumpang ada saya bersama Pak Yono dan 2 mahasiswi yaitu Elisabeth dan Elita. Khusus Elita duduk di depan samping sopir agar space ruang duduk kami di belakang bisa cukup atau lebih longgar. Tepat pukul 04.30 pagi kami meninggalkan Pentingsari dan menuju wahana pertama yaitu Bangker Kaliadem. Kabut tebal menyelimuti bukit, jarak pandang mungkin tidak lebih dari 10 meter. Bapak Sopir yang mengantarkan kami harus menghidupkan lampu kabut, itupun tidak cukup membantu. Berjalan pelan dan tepat di tengah-tengah jalan. Sesekali kami berpapasan dengan jeep lain dan terkadang truk-truk pengangkut pasir. Jangan berkelombang bebatuan menjadi suguhan sepanjang jalan. 



Bangker Kaliadem menjadi obyek pertama yang kami kunjungi. Memasukinya sambil mendengarkan penjelasan dari pak sopir yang mengantar. Ternyata mereka cukup berpengalaman, bukan hanya skill menyetir di jalan berbatu tetapi juga mengetahui sejarah dan cerita-cerita di balik pembangunan bangker ini. Tahun 2010, 2 korban terperangkap di dalamnya. Memang di luar prediksi, bangker ini dirancang bukan untuk menyelamatkan penduduk dari lahar panas akan tetapi dari awan panas atau wedus gembel. Dua korban di dalam bangker pada tahun 2010 bukan karena awan panas tetapi bangker ini tertimbun oleh lahar. Cukup lama mengeluarkan korban dari bangker, para penyelamat harus mengeluarkan material-material erupsi gunung api baru bisa membuka pintu bangker. Sambil mendengarkan penjelasan 'tour guide' kami berjalan menuju bukit di atas bangker untuk sekedar berfoto di tengah kabut. Sebenarnya ini salah satu spot sunrise yang bagus, begitu penjelasan pak sopir, namun sepertinya kondisi alam belum memihak ke kami untuk menikmati indahnya pancaran sunrise. Kabut tebal. 

Puas menikmati tebalnya kabut kami mulai bergerak ke bawah menuju batu alien. Batu yang mirip menyerupai wajah manusia ini besar terdampar akibat erupsi gunung merapi 2010. Meskipun obyek utamanya adalah batu alien, bukan berarti ini merupakan satu-satunya yang bisa dinikmati. Di sini ada beberapa spot foto yang dibangun oleh warga dengan latar gunung Merapi. Namun sangat disayangkan, kabut kurang bersahabat sehingga tidak bisa menikmatinya. Sekitar jam 06.00 kami berada di spot ini, tepat di sebalah timur adalah kali gendol yang selalu menjadi 'saluran' lahar panas maupun lahar dingin. DI dasar sungai yang kering dengan kedalaman lebih dari 15 meter berjajar truk-truk pengangkut pasir. Mereka antri mendapatkan pasir untuk selanjutnya di angkut ke kota-kota tujuan.

Setelah bersenang-senang di spot ini, naik jeep kami menuju museum mini sisa hartaku. Rumah warga yang terkena awan panas. Banyak properti rumah yang masih tersisa seperti gelas, piring dan properti lainnya. Banyak properti yang masih utuh yang berubah bentuk karena meleleh akibat terjangan awan panas. Banyak sekali cerita yang disampaikan oleh tour guide sekaligus sopir sebenarnya. Saat menunjukkan foto awan panas yang menyerupai wajah manusia, pak sopir menceritakan mengenai kepercayaan masyarakat Jogja mengenai makhluk halus yang menunggu gunung merapi. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi itulah kepercayaan masyarakat setempat. Ternyata ada banyak versi cerita di balik erupsi Gunung Merapi. Bukan hanya cerita vulkanologi tetapi juga cerita-cerita mistis yang diceritakan baik secara gamblang maupun sedikit disembunyikan.

Rupanya museum mini sisa hartaku merupakan destinasi terakhir kami. Selesai mendengarkan cerita panjang dan lebar dari Pak Sopir kami langsung turun ke bawah yaitu di Desa Wisata Pentingsari. Mandi pagi, sarapan dan kemudian melanjutkan kegiatan setengah hari sebelum jam 13.00 kami harus check-out dari homestay. 
Share:

Ke Blora? Jangan lupa cicipi lontong tahu Pak Dasrip

Ada rencana ke Blora? Jangan lupa mampir ke Lontong Tahu "Blora Mustika" Pak Dasrip yang berada di Jalan RA Kartini, Blora. Jajanan khas Blora ini cukup terkenal. Setiap pukul 17.00 sampai malam 21.00, antrian mengular bukan hanya mereka yang tinggal di Blora tetapi banyak juga ditemukan plat mobil luar Blora parkir berderet di samping warung. Perlu bersabar, menunggu setiap porsi disajikan atau mungkin di bungkus. Jangan kaget jikalau kita menemukan 1 orang mengantri 10 atau 20 bungkus lontong tahu. Itu sudah jadi pemandangan yang sangat umum di sini. Jika ada 5 orang mengantri di depanmu, bukan berarti ada 5 porsi yang disajikan bisa saja 25 atau justru 50 porsi.

Warung lontong tahu Pak Dasrip
Harga normal untuk setiap porsi adalah Rp. 10.000,- tinggal dihitung saja tambahannya, bisa berupa tempe jati blora, kerupuk dan 'aksesoris panganan' lainnya, tidak hafal satu per satunya. Cukup terjangkau oleh dompet kampung maupun dompet kota. Harga yang pas untuk sebuah porsi hasil juara 1 lomba kuliner Kabupaten Blora ke 258 ini.

Terkenalnya lontong tahu ini memang tidak lepas dari kejuaraan lomba kuliner itu. Juara 1!. Bermula tahun 1984 bisnis rumahan Pak Dasrip terus berjalan, menjadi popular dari satu mulut ke mulut. Dari satu keluarga ke keluarga lainnya hingga menggaung ke luar kota. Maka tidak jarang kita temukan plat nomor kendaraan yang bukan berasal dari Blora. Para pelintas jalur tengah jawa tengah bagian timur tentu akan melewati Kabupaten Blora dan tidak jarang akan mampir ke maestro kuliner Blora ini.

Khas menggunakan daun jati. Aroma wangi daun jati menjadi pembungkus lontong tahu. Khas, sungguh khas dibuatnya. Enak rasa lontong tahu dipadu dengan wangi khas daun jati menjadikan cita rasa tersendiri nan unik dan menarik. Terkadang tidak jarang orang datang hanya karena ingin menikmati lontong tahu beralas daun jati sebagai piringnya. Memang berbeda, sangat berbeda baik rasa maupun aromanya.

Jangan lupa aksesoris panganannya juga musti dicoba. Tempe bungkus daun jati, serba jati pokoknya, juga pantas dinikmati sebagai teman kuliner lontong tahu ini. Tipis tempe, menjadikan tempe terasa krispi dan bumbunya juga meresap hingga bagian tengah dan dalam. Enak sekali!.
Share:

Suramadu Penyambung Cita Rasa Sinjay

Hai fellas..

Gimana apakah sudah berangkat liburan lagi?? Kayanya pengen rasanya tiap hari isinya jadi traveller dan menulis. Disamping itu, saya masih punya mimpi untuk single traveller. Kemana aja, tempat yang menarik untuk dijalani karena travelling itu ga harus mahal kan, seandainya kita bisa berhemat diperjalanan juga kita tetap aja perjalanan kita bakal menarik.

Oke cerita saya kali ini, tentang Surabaya. Sura dan Baya ada simbol dari ibukota provinsi Jawa Timur ini. Gw kesana untuk menghadiri acara dengan beberapa teman kantor kami. Ada beberapa kesan yang menarik waktu gw sampai ke kota dengan ikon ikan hiu dan buaya ini. Begitu rombongan sampai di malam hari kesan yang saya dapatin dari kota itu ada tenang dan menyenangkan. Jalanan disana cenderung lebar dan dimedian jalan pasti terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lumayan luas. Kondisi tersebut jarang sekali terjadi di kota-kota besar di Indonesia, bahkan mungkin di ibukota Jakarta bahkan median yang sangat rindang dan tertata rapih hanya disebagian jalan utama saja. Berbeda dengan Surabaya dimana-mana taman di median jalan atau bahkan sekedar RTH yang cukup luas konsisten bahkan untuk daerah yang jauh dari pusat kota. Bahkan taman di median jalan tak jarang terdapat aktivitas untuk sekedar bermain atau sekedar ngobrol. Salut dengan Ibu Wali!! Oke mungkin konsepnya sama dengan Bandung yang fokus untuk menyediakan ruang khusus yang diciptakan peruntukkannya sebagai kawasan taman ataupun tempat aktivitas khusus. Tapi ide ini cukup kreatif dimana menciptakan ruang-ruang terbuka disepanjang jalan (yang pasti pemiliknya adalah pemerintah) dimana juga dapat mengurangi polusi dan panas yang ada di suatu kota. Mungkin sedikit saran saja kedepannya dapat menciptakan ruang terbuka biru yang juga dapat mengimbangi curah hujan kota Surabaya yang cenderung rendah.

Source: Dokumentasi Pribadi
Berbicara tentang curah hujan, Kota Surabaya bisa dibilang sebagai kota yang luar biasa PUANAAASSS sekalii... ruang terbuka biru mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk memberikan evaporasi terhadap udara sehingga menghasilkan bulir - bulir hujan di Kota Surabaya. Jadi waktu kami disana kami melakukan perjalanan menuju Pulau Madura melalui Suramadu. Yaps, Jembatan terpanjang ketiga di Asia Tenggara itu, memiliki kharisma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata siih. Saya yang baru pertama kali datang ke Surabaya dan melalui jembatan itu cukup terkagum karena secara design jembatan itu sangat mirip dengan Tower Bridges. Iya Tower Bridges di Inggris. Luar biasa keren banget. Trip siang itu melalui selat madura dengan lancar karena kabarnya seandainya angin cukup kencang ada larangan untuk melalui jembatan tersebut. Tapi ya siapa ngerti hehe. Untuk melalui jalan tol sepanjang 5,4 Km ini kita hanya butuh merogoh kocek 15 ribu rupiah aja untuk berkendara dengan mobil. Jadi kalau mau jalan jalan ke Pulau Madura cukup murah kan kalau berkendara dengan mobil. Atau apabila para backpacker ingin menyewa motor bias juga melalui jalan tersebut dengan biaya GRATIS alias FREE. Selain dengan mobil atau moto untuk mencapai Pulau Madura kita juga bisa menggunakan kapal feri. Kita akan melalui pelabuhan paling besar di Surabaya yaitu Tanjung perak seandainya mengunakan feri untuk menyebrang menuju dan dari Surabaya. Di kapal akan menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan dan memiliki kesan sendiri siih seandainya menggunakan feri. Tapi sayang rombongan saya tidak naik feri hari itu.

Pertama kali menjajakan kaki di Pulau Madura adalah pulau tersebut termasuk pulau yang tidak terlalu berkembang dibandingkan beberapa pulau yang termasuk besar di Indonesia, seperti bangka ataupun belitung atau bahkan pulau pulau kecil di kepulauan seribu. Pada saat keluar tol Suramadu, pulau yang ditahun 2015 sempat digadang-gadang untuk dijadikan provinsi baru di Indonesia ini, terlihat memiliki penduduknya yang masih terbilang sangat jarang, dan jarak untuk kita bertemu rumah dari satu lokasi lumayan jauh. Padahal kalau kita lihat bukan termasuk daerah yang tandus, masih ada beberapa pekerjaan pertanian disana, namun seperti kota yang tidak punya aktivitas ekonomi yang besar. Bahkan Kementerian PU punya lahan yang cukup besar disana tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal menarik yang dapat ditemui dari Pulau Madura adalah kuliner Bebek Sinjay dan juga skyline Kota Surabaya yang dapat dinikmati dari pinggir Selat Madura tersebut. Luar biasa, seandainya itu dapat dikelola dengan baik pasti akan dapat menjadi tempat pariwisata yang menarik seperti Jembatan Ampera di Kota Palembang. Kenapa demikian, karena dilihat di siang hari saja skyline tersebut dapat terlihat dengan jelas walaupun karena jarak jadi terlihat sangat kecil. Namun apabila malam dan tempat tersebut dikelola dengan baik saya yakit tempat tersebut akan menjadi daya Tarik tersendiri atau bahkan dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi baru untuk masyarakat Madura pada khususnya. Fotonya gw bagi dibawah sini yaa..

Source: Dokumentasi Pribadi, Edited by: Cipta
Keren ga?? (Itu jadi lebih keren karena peran editan temen gw. Aslinya gw mah bukan orang yang bisa fotografi hehhee... Jadi nikmatin aja yang ada ya, hihihii....) Lanjut ke Bebek Sinjay ya.. Tempat makan ini adalah tempat makan yang RUAAAMEENEEE PUUOOLL sampe bingung nyari tempat duduk dong. Ngantri belinya aja panjang banget, belum lagi ngantri ngambil makannya. Warbiasyahh pokoknya. Eits, tapi jalan salah tempat ini cukup worth it loh untuk dikunjungi selagi kita mampir ke Pulau Madura. Menu utamanya bebek goreng, kalau Bahasa Surabayaan tuh bilangnya "iwak bebek", ahhaa.. Iwak ( red : artinya ikan dalam Bahasa jawa ) atau bebek siih pak hehee... Tempat makan itu memang tempat makan yang ramai sepanjang masa. Menu favoritnya pastinya ya bebek kawan, udah ga ada yang lainnya. Pertama masuk kesana hal yang perlu dilakukan adalah dibagi menjadi 2 tim yang 1 adalah pengantri pesan makanan dan yang lainnya mencari bangku kosong untuk duduk. Karena antrian panjang jadi ga semua orang kebagian tempat duduk. Terpaksa harus menunggu pengunjung lainnya selesai makan. Tapi ga perlu takut makanan ga bakalan datang duluan sebelum kita duduk karena setelah proses membayar masih ada lagi proses mengantri makan dan minuman. Selesai kamu bayar kamu dapat mengantri lebih dari 20 rombongan pesanan. Luar biasa magis banget kan makan dengan kerumunan orang begitu. Kepikiran ga berapa omzet Pak Sinjay seharinya? Hhahaha.. Khasnya selain bebek tadi sambal manga yang dimakan bersama bebek goreng berserundeng tersebut. Kabarnya kalau manga sedang sulit sambal itu juga dicampurkan dengan kedondong. Tapi itu sensasinya enak banget siih asin gurih ditambah dengan kecut kecut yang menyegarkan dari manga ataupun kedondong dari sambalnya. Pokoknya kalau udah sampai Pulau Madura harus mampir kesini. 

Kesan menarik banget makan Bebek Sinjay yang dihubungkan dengan jembatan Suramadu, sehingga lebih mudah untuk menjangkaunya hehe.. Seandainya adalagi kegiatan ekonomi yang dapat menjadi trademark ataupun pertumbuhan ekonomi baru pasti Pulau Madura dapat menjadi salah satu pulau yang potensial dimana telah dihubungkannya pulau tersebut dengan Ibukota Provinsinya, Surabaya. Jadi, jangan lupa main - main ke Meduro yo Rek kalau ke Surabaya.

See ya fellas.. :)
Share: