Perjalanan Singkat di Salah Satu Pulau Eksotik Indonesiaaa...

Baiklah kakak
dengan hati yang bahagia hari ini gw akan sedikit sharing tentang Bali..
Tulisan ini udah lama banget ngendap di draft blog gue

Yaps, Bali adalah salah satu pulau yang baru gw kunjungi dan ini adalah pertama kali gw ke Bali.. (jangan diketawain ya... :P)

Jadi perjalanan gw dimulai dari adanya undangan nikah teman gw yang ada di Bali..
Undangan itu seperti gw anggap sebagai salah satu jawaban atas dulu rencana kita sewaktu SMA untuk liburan bersama di Bali..
Hahha... selalu ada jalan Allah untuk menjawab janji ya...

Ga pernah salah cita-cita atau harapan itu memang harus diucapkan secara lantang dan kuat sehingga kau bisa menunggu waktu yang tepat sehingga cita cita itu bisa terwujud

Okay,, kita mulai sedikit perjalanan gw di Bali dan sekitarnya. Karena perjalanan gw bukan hanya di Bali pada dasarnya. Gw juga jalan ke Nusa Penida. Nusa Penida adalah pulau yang dekat dengan Bali. Kalau di Nusa Tenggara ibaratnya Gili nah disini namanya Nusa. Gw akui pulau ini sederhana dan juga INDAH bangeeettt... Cocok banget untuk muda mudi yang ingin bulan madu, atau hanya sekedar escape dari kepenatan di kantor and enjoy the trip ( udah sok sokan anak Jaksel belum.. hehe)

Perjalanan Jakarta - Bali

Gw tiba di Ngurah Rai tepat Kamis dini hari karena gw naik flight malam dari Jakarta. Sesampai kami di Ngurah Rai, bandaranya sepi banget ternyata kalau pagi gengs.. dan jarang banget orang yang sengaja bermalam di bandara. Gw kirain kondisi bandara akan sama kaya Soetta yang rame banget orang nginep di bandara ternyata gw salah heehee...

Sampai di Bandara gw bingung nyari jalan keluar bandara, karena memang jalan keluarnya sangat jauh. Kita kira di Bandara kita tidak boleh memesan Go Jack tapi sewaktu pulang gw pesen dan ternyata bisa pesan gojek.

Yang perlu kalian perhatikan di Bali adalah banyak banget orang nyalo. Yaps, mereka akan menawarkan tumpangan dan pesan Go Jack ataupun Grab your Car akan susah sekali disana. Semua tempat wisata akan dibandrol harga mahal banget padahal kalau pakai aplikasi hanya puluhan ribu tapi mereka akan membandrol harga ratusan ribu atau cancel aja..

Hingga pagi kami menunggu di Bandara hingga akhirnya naik calo grab untuk ke Kute waktu itu dengan harga 40 ribu padahal kalau pake aplikasi cuma 20-30 ribu.. Pantai Kuta memang the best place pagi itu.. sambil nyari sarapan kami makan fast food di pinggiran pantai.. padahal gw mau nyari makan yang lewat lewat tapinya temen gw monmaap agak agak high class yang suka kebablasan.. hahahaa...

Perjalanan Menuju Nusa Penida

Perjalanan menuju Nusa Penida kita mulai dari Pantai Kuta menuju Pantai Sanur karena boat menuju Nusa Penida adanya di Pelabuhan Sanur, waktu itu kita naik gocar dengan harga 64 ribu.. untung masih pagi jadi babangnya masih baik.. hehehe
Begitu sampai di Pantai Sanur, benar banyak banget yang outlet yang jualin tiket boat menuju Nusa Penida. Untuk harga tiket sendiri bisa mencapai anatara 75 - 100 ribu untuk lokal dan 150 - 200 ribu untuk bule ( atau turis ). Waktu itu kapal yang kita gunain adalah Angel Billabong. Kapalnya bagus siih walaupun ga mewah tapi bersih dan kondisinya cukup baik, mungkin karena banyak turis mancanegara yang naik sehingga mereka memberikan fasilitas yang baik untuk transportasi ini. Karena memang 80% dari pengguna kapal boat ini adalah bule guys.. dan rasanya pengen banget ngobrol sama mereka ahaha....

Banyak dari mereka yang cerita tentang kisah travelling mereka saat bertemu orang orang di kapal yang mungkin tidak mereka kenal dan baru kenal disana hehhe.. Kebanyakan bule yang ada di kapal gw waktu itu dari German, Sweden, America.. Mantaabb...

Oke perjalanan menggunakan kapal boat menghabiskan waktu lebih kurang 40 menit. Sesampainya kita di pelabuhan Nusa Penida kita langsung ditangkap sama calo calo yang nawarin sewa motor. Karena di dalam pulau ini ga ada "ANGKOT" jadi lebih baik sewa motor karena juga jarak antar wisata itu cukup jauh. Bahkan bule bule yang kece itu juga naik motor atau mereka menyewa jasa trip keliling nusa penida 1 hari sekitar 350 ribuan. Karena gaya backpakeran siih lebih milih sewa motor yang hanya habis sekitar 100 ribu dengan bensin full.

Untuk hostel di nusa penida beragam guys, mulai dari hotel atau penginapan didekat pelabuhan, dekat tempat wisata, atau didepan pantai langsung sehingga bisa menikmati pemandangan sunsets atau sunrises secara langsung juga banyak. Jadi tinggal pilih.. Penginapan disana mulai dari harga 120ribuan/malam sampai harga 500 ribuan/malam atau bahkan lebih.

Perjalanan Selama di Nusa Penida

Perjalanan pertama kami adalah Klingking Beach.. Gw secara pribadi juga ga tau kenapa pantai ini dinamakan klingking beach..Tapi di pantai ini ada tempat escape yang sangat menarik menurut gw, lokasinya harus turun kebawah dan itu menarik banget untuk disinggahi. Kalau mau turun kebawah harus ngantri turun dan dibawah pasti ga terlalu banyak orang. Gw juga ga ngerti kenapa karena waktu itu gw ga ikutan turun.
Perjalanan menuju Klingking Beach mungkin sekitar 1 jaman dari lokasi hotel gw dengan sepeda motor. Perjalanan kesana awalnya jalannya bagus banget, jadi sambil menikmati jalanan lw bisa juga sambil ngobrol di motor kalau lagi honey moon pasti seneng banget deh hehehe.. Tapi ketika mendekati pantai jalanannya rusak parah banget. Gw ga ngerti kalau cuaca pas hujan gimana jalanan itu dan untungnya selama gw disana ga ujan jadi bisa jalan jalan ke semua tempat.
Kembali ke Kelingking Beach, masuk kesana cukup bayar 5000 per orang dan 2000 untuk parkir motornya, jadi kalau berdua palingan cuma abis 12 ribu.


  Source : Dokumentasi Pribadi
Spot Favorit di Pantai Broken Angel


Perjalanannya kemudian kita lanjut ke Broken Beach dan Angel Billabong. Ini adalah pantai terakhir yang kami kunjungi pada hari pertama. Kalau di Kelingking Beach kita masih bisa menikmati pantai pasir putih kalau disini kita ga bisa main air sama sekali.. Pantai ini dikelilingi karang tinggi dengan ombak yang cukup besar.. Gw merasa sangat nyaman disana dengan mendengarkan suara ombak.. Sama seperti perjalanan menuju Kelingking, jalan menuju pantai ini juga rusak parah banget. Sampai kalau naik motor itu bisa keloncat dari motornya. Ga sedikit bule bule yang kelempar dari motor dan luka bahkan kakinya patah. Disini bener bener bagus banget buat menikmati suasana alam. keren banget siihh. pantainya.. Kalau beruntung katanya bisa liat ikan pari yang berenang di pantainya... gw akan sebar beberapa foto disini ya...

Source : Dokumentasi Pribadi
Jadi kita bisa menikmati Sunrise disepanjang pantai menuju Bukit Molenteng

Hari Kedua: Bukit Molenteng

Oke hari kedua ini terlalu banyak fleksibelitas yang kami lalui. Masih banyak tempat yang ingin didatangi, seperti lembongan island, dan juga keliling kota Bali tentunya. Ada yang tidak begitu cocok siih antara gw dan partner gw liburan. Kalau gw lebih suka sightseeing suatu kota pakai jalan kaki, bukan hanya di satu lokasi wisata tertentu kita berfoto lalu habis sudah kita pulang. Tapi juga menikmati hidup seperti penduduk lokal. Tapi naik kendaraan online kadang membuat kita kurang peka terhadap sekitar. Ya tapi tergantung pribadi siih itu. Oke balik lagi ke cerita hari kedua ya...

Perjalanan pertama kita diawali dari pagi banget karena pengen liat sunrise di Pantai atuh dan naik ke Bukit Molenteng niatnya. Tapi karena kita naik motor dan gw merasa kalau jalan disekitar sana tidak ada lampu penerangan jalan akhirnya gw memutuskan ga berani naik motor kalau hari belum agak terang. Minimal jam 5 lah dimana orang orang sudah mulai banyak yang beraktivitas. Akhirnya kita start perjalanan kita jam 5.30 pagi. Hal yang menarik dari tinggal di pulau adalah lw tinggal nentuin aja mau liat sunrise disisi mana dan sunset disisi mana. Karena semuanya pasti keliatan dan jalan besar pasti gampang banget dicari kalau di dekat pantai ( memang perencanaannya seharusnya begitu kan... ). Perjalanan pagi itu dimulai dengan melihat sunrise disepanjang jalan menuju Bukit Molenteng. sempat sedikit berfoto dan mengabadikan pengalaman melihat sunset walaupun bukan dipantai Atuhnya... hehehe....


Perjalanan menuju Bukit Molenteng menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam dari tempat kami menginap. Dan sesuai prediksi gw jalan kesana banyak yang curam dan ga ada penerangan jalan. Jadi jalan terang ya karena rumah penduduk disekitarnya. Kalau sudah mencapai wilayah hutan ataupun bukit yaa jalanannya tidak ada lampu penerangan. Jalan menuju kesana melewati beberapa turunan curam dan juga tanjakan yang curam. Jadi hati hati aja ya gengs.. Tapi jalanan kesana relatif lebih bagus dibandingkan jalanan yang kita lalui untuk mencapai pantai di hari pertama. Rusak tapi ga terlalu parah banget.

Sampai di Bukit Molenteng ada penginapan disana yang ditinggali banyak bule bule. Bentuknya kaya rumah pohon gitu nahh disitu laah spot foto yang paling fenomenal dari Bukit Molenteng itu. Banyak banget pemandangan bagus walaupun ngambil fotonya butuh effort yang luar biasa juga tapi so far liburan kesana menyenangkan abiss.... Btw foto di kiri ini diambil di spot populer di bukit molenteng looh. Untuk sampai ke spot foto butuh kekuatan jiwa dan raga yang luar biasa, karena kita harus menuruni banyak anak tangga dan kemudian naik lagi untuk sampai di spot foto lainnya. Jadi dengan kata lain itu beneran BUKIT guys.. hehehe... Perjalanan yang melelahkan itu tapi terbayar lunas kok dengan kepuasan foto dan semangat melihat air yang bisa dirasakan dari atas. Penasaran siih berapa harga hotel disana... itu pasti tiap malam bisa melihat bulan dan bisa jadi spot paling romantis. Sayang aja di tengah hutan..hahahaha..... Beberapa foto akan gw sebar disini yaa...


Tapi kalau menurut gw kalian harus banget nurunin pantai atuh siih, sayang aja kmrn gw ga kesana karena harus turun tangga lagi kayanya dengkul tidak bersahabat. hehehe.... tapi lain kali kayanya harus banget single day trip kesana.... Siangnya kita melanjutkan perjalanan menuju Bali lagi dengan speed boat dan disana gw jelas melihat banyak bule yang cidera. Jadi kalau memang lokasi itu bisa jadi prospek wisata yang baik alangkah baiknya prasarannya juga segera dilengkapi dan akses menuju kesana diperbaiki lagi.

Gw udah lama nyimpen tulisan ini di draft jadi sayang aja kalau ga kita share disini.... jadi kenang kenangan buat gw juga.. Kalau mau kita rinci berapa pengeluaran gw 2 hari 1 malam disana..

Speed boat menuju Nusa Penida      : Rp. 100.000
Sewa Motor                                      : Rp. 100.000 (full bensin)
Hostel                                               : Rp. 100.000 (perorang)
Makan (inc. air mineral, jajan)         : Rp.   75.000
Masuk ke Klingking Beach              : Rp.     6.000 (perorang)
Masuk ke Angel Billabong               : Rp.     6.000 (perorang)
Bensin                                               : Rp.    12.000
Speed boat balik ke Bali                   : Rp. 100.000

Total                                                 : Rp. 504.000


Akhirnya gw menyelesaikan tulisan ini.. Padahal ini udah hampir 2 bulanan tapi tetep aja ya ga kelar kelar hehhee...



Enjoy fellas :)

   
Share:

Lotek pedotan: jelajah kuliner Magelang

Menjelajah kuliner Magelang, rasanya belum lengkap sebelum menikmati lotek pedotan. Hanya dengan Rp. 10.000,- untuk setiap porsinya, kita sudah bisa menikmati sayuran segar plus bumbu kacang. Bagi yang suka lalapan mentah, sayur mentah tanpa dimasak, ini menjadi alternatif yang patut dicicipi. Termasuk bagi pecinta pedas, kita bisa menentukan sendiri levelnya dengan jumlah cabai rawit setan gede-gede. Selain sayuran, biasanya juga ada gorengan yang dipotong kecil-kecil kemudian kerupuk yang ikut dicampur bersama sambel kacang di cobek raksasa berdiameter lebih dari 30 Cm. Rasanya yang memang membuat kita ingin berlama-lama duduk di korsi bambu khas desa, lengkap dengan dawet cendol manis gula jawa.
Lotek pedotan, Salaman
Suasana desa memberikan nilai tambah kuliner khas Salaman ini. Di belakang warung masih terhampar luas areal pertanian cabai. Di sebelahnya ada tukang potong rambut yang sudah melegenda dan di depannya ada bengkel sepeda motor. Tidak jarang orang-orang yang datang ke warung sederhana ini adalah mereka yang sedang 'mbengkel' atau memang menyempatkan diri ke sini termasuk aku. Benar-benar jauh dari keramaian, masuk sekitar 3 - 4 km dari pusat keramaian Kecamatan Salaman. Menjadikan kuliner satu ini terkenal bukan karena lokasi tetapi kare rasa dan porsi. Jumbo porsinya, satu piring penuh menggunung. Bikin perut penuh terisi. Jangan lupa krupuk udangnya juga patut dicoba.

Nama pedotan sendiri diambil dari nama daerahnya, Pedotan berasal dari kata dasar 'pedot' artinya putus. Kata ini muncul sejak lama, puluhan tahun lalu disaat jembatan penghubung Desa Salaman dengan Desa Teki terputus atau 'pedot'. Kejadian ini dijadikan pengingat oleh masyarakat setempat menjadi nama daerah.
Share:

Strada Coffee: nikmati kopi langsung dari maestronya

Sering sekali mengunjungi cafe yang berlokasi di Jl. Letnan Jenderal S. Parman No.47A, Gajahmungkur, Kota Semarang ini sekedar bertemu teman, 'mengungsi' dari rutinitas dan tentunya bekerja. Meskipun sering bekerja di sini bukan berarti saya adalah barista ataupun karyawan di cafe yang menyajikan aneka kopi nusantara ini. Pertama kali kesini karena ajakan seorang teman yang kebetulan hampir seminggu minimal sekali menguras dompetnya untuk secangkir kopi gayo tubruk. Dari seluruh cafe yang terus tumbuh di daerah Tembalang dan Semarang pada umumnya, memang cafe satu ini patut menjadi salah satu rujukan. Bukan hanya menikmati pahitnya kopi tetapi nyamannya tempat menjadi pilihan tersendiri. 

Menikmati Matcha Latte di Strada Cafe
Setiap kita membuka pintu cafe kita langsung akan menjumpai berbagai peralatan pengolahan kopi dari alat sedu hingga penggilingan kopi. Di sebelah ujung bagian selatan, kita jumpai alat besar sekali, sesekali ada orang yang menggunakannya seperti orang-orang yang bekerja di laboratorium menggunakan mikroskop. Entah apa nama alat ini, saya tidak tahu. Tepat disebelahnya adalah tempat para barista bekerja. Mungkin  dapur atau workshop mereka. 

Jika beruntung, kita juga akan disuguhi video profil Strada dan ownernya yaitu Evani Jesslyn, sang maestro kopi. Di video yang terus diputar berulang kali ini pengunjung disugihi informasi mengenai perjalanan Evali menjalankan usahanya saat memilih kopi, menjadi tamu di berbagai acara TV hingga yang terakhir yaitu menyuguhkah secangkir kopi langsung ke Presiden Joko Widodo di istana negara. Profil yang cukup lengkap!

Khusus saya, yang menjadi menu favorit adalah Matcha latte, kopi Gayo Tubruk dan Stik Pisang. Di kala saya ke sini, selalu saja di antara 3 menu itu yang dipesan. Kopi gayo tubruk di Strada memang tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya rasakan langsung di bumi Aceh tepatnya di puncak Gunung Geurutee Aceh. Di puncak gunung ini, kopi gayo tetap yang nomor 1 dan yang nomor 2 adalah di Strada Cafee. Ini menurut saya. Selalu gayo, di berbagai cafe yang pernah saya kunjungi selalu saya menanyakan apakah menyediakan kopi Gayo? Jika iya, pasti itu yang saya pesan. After taste, rasa kecut, asam khas Gayo belum bisa digantikan cita rasa kopi yang lain. Meskipun kopi lintong dan kopi Temanggung juga memberikan cita rasa yang relatif sama yaitu asam. 

Jam 10.00 pagi hingga 00.00 setiap harinya, cafe ini dibuka. Biasanya mulai jam 11.00 para pecinta kopi silih berganti mulai berdatangan. Harga normal cafe yaitu kisaran di bawah Rp. 50.000,- untuk setiap cangkirnya. Harga pastinya, saya lupa tidak pernah memperhatikan. Yang diperhatikan biasanya hanya total harga saat akan membayar. Jadi khusus review harga bisa digoogling langsung atau bisa cek di go-food. Ada kok. Untuk lokasinya bisa dicek langsung di map bawah ini.



Share:

Belajar dari Pentingsari: desa wisata yang tidak memiliki obyek wisata

Pasti sudah banyak yang membahas desa wisata ini, baik oleh para blogger maupun wartawan. Desa wisata Pentingsari, sebuah desa wisata di kaki Gunung Merapi yang sangat istimewa. Kali ini kami tim dari Semarang bukanlah satu-satunya rombongan yang berkunjung dan menginap, kami adalah tim kelima dari enam rombongan mendatangi desa ajaib ini. Iya memang ajaib! Letaknya yang hanya sekitar 12 km dari puncak Merapi ternyata justru menjadi berkah tersendiri. Pasca erupsi tahun 2010, jumlah wisatawan semakin membludak. Seakan-akan bencana besar erupsi menjadi 'media marketing' tersendiri guna semakin mempopulerkannya. Desa ini cukup terdampak, meskipun tidak masuk ke kawasan rawan bencana (KRB). 
Seorang mahasiswa sedang membajak sawah
Desa wisata yang benar-benar tidak memiliki obyek wisata menjadi keajaiban lain. Demikian yang kami dengar pertama kali dari ketua Pokdarwis disaat menyambut rombongan mahasiswa MKP Pariwisata Undip di rumah Joglo Pentingsari. Tidak percaya, benar-benar tidak percaya, bapak ini pasti sedang bercanda pikir saya. Bagaimana mungkin desa wisata, sekali lagi labelnya adalah 'desa wisata' tetapi tidak memiliki obyek wisata. Antara merasa tidak percaya dan merasa 'rugi' mengunjungi, itu awal impresi saya atas desa wisata ini. Meskipun sebenarnya penjelasan itu cukup berseberangan dengan informasi yang beredar di internet seperti yang ditulis di desawisatasleman.wordpress.com. Webblog itu menginformasikan sedikitnya ada 8 obyek wisata di dalamnya seperti pancuran suci sendangsari.

Bermain lumpur

Jam 10.00 selesai briefing, kami langsung mendapatkan pembagian homestay. Menaruh beberapa pemberat badan di kamar kami masing-masing, bertemu bapak/ ibu pemilik homestay sekedar berkenalan dan beramah tamah, kami langsung memulai kegiatan pertama kami di sini. Instruksi yang diberikan adalah mengganti pakaian dan siap-siap kotor. Bapak Sugeng dan Bapak Waluyo, sebagai pemandu mengarahkan kami melewati kebun mahoni dan sampailah kami di salah satu kubangan air bekas persawahan. Melalui suara kerasnya, Pak Waluyo memerintahkan kami mencari lele sebanyak-banyaknya, diambil untuk kemudian dimasak di homestay. Tentu mereka yang berusia di bawah 30 tahun mendapatkan tugas terhormat ini. Mahasiswa dengan gaya-gaya khas mereka, jeritan merdu khas ibu kota dan jemari-jemari lentik memegang lele menjadi pemandangan yang heboh dan ramai. Tidak sedikit mahasiswa harus terpeleset, berlari, kaget dan respon-respon kocak lainnya. 

Selesai bermain lumpur sambil mencari lele hidup, kami bergeser sekitar 10 m ke arah timur. Di situ kami disuguhi kubangan air yang tidak jauh berbeda dengan kolam lele. Berbedanya adalah di 'wahana' ini kami disodori lapangan basah lengkap dengan bola dan gawang. Bermain bola kami. Dari 23 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini hanya ada 2 laki-laki, yang lain adalah mahasiswi. Teriakan suporter kalah oleh lantunan jeritan para mahasiswi. Mencoba menggiring bola hingga menggendongnya untuk dimasukkan ke gawang. Heboh! sangat heboh. Tidak ada aturan, tidak ada handball, pinalti apalagi kartu merah dan kartu kuning. Sama seperti emak-emak yang naik sepeda motor sambil menyalakan lampu sein kanan namun berbelok sebaliknya. Tidak ada aturan, atau aturannya ada tetapi tinggalah aturan. Tidak jelas grup siapa yang memenangkan perlombaan bola lumpur ini. Yang terdengar hanya teriakan, jeritan dan pekik keras suara mereka.

Persis bersebelahan dengan lapangan sepakbola ada sapi lengkap dengan Bapak pengendaranya. Sontak mahasiswa yang tidak bermain bola langsung mencoba 'ngluku' menyiapkan lahan untuk tanam padi. Hampir sebagian besar mencobanya termasuk saya. Bahkan ada satu mahasiswa yang mendapatkan jackpot berupa pup sapi di saat menunggangi bilah kayu pengendali. Kalau tidak salah Elisabeth, mahasiswa penerima jackpot berharga ini. Pengalaman yang tidak terlupakan sepertinya. Setelah tiga rangkaian permainan lumpur ini kami diajak menyusuri sungai bekas tambang pasir. Menyusuri jalan berliku terjal dan hanya dibantu tambang untuk pegangan. Raut muka ceria berubah menjadi tegang, takut dan tentunya tidak PD untuk meniti jalan berliku. Tetapi syukur alhamdulillah semuanya bisa melewatinya. Jalan terjal ini mengantarkan kami ke sungai dengan air jernihnya, sisa penambangan pasir menghiasi dinding-dinding sungai menjadi pemandangan yang berbeda. Ini adalah akhir dari perjalanan hari pertama kami di Pentingsari.
Share:

Jeep Lava Tour: telusuri erupsi gunung merapi

Sabtu pagi (27 Oktober 2018), empat jeep menjemput kami di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. Bersiap mengantarkan tim menelusuri bekas erupsi Gunung Merapi, dari bangker kaliadem hingga museum mini sisa hartaku. Niat awal sebenarnya ingin menyaksikan eksotisnya sunrise di Gunung Merapi. Harapan besar itulah yang mendorong kami bangun lebih pagi dari jam biasanya. Pukul 03.30 tepat alarm HP mulai berdering, bersiap-siap kurang lebih 30 menit dan menunggu kedatangan jeep di titik kumpul yang sebelumnya telah kami sepakati yaitu di depan Joglo Pentingsari. Ternyata sudah ada 1 jeep merah menyambut kami tepat di pintu gerbang joglo, kemudian disusul ketiga jeep lainnya. Suara gemuruh khas mesin ber CC besar mulai menggetarkan pagi yang berkabut. 


Setiap jeep diisi oleh maksimal 4 penumpang dan 1 sopir. Jeep merah dimana kami menumpang ada saya bersama Pak Yono dan 2 mahasiswi yaitu Elisabeth dan Elita. Khusus Elita duduk di depan samping sopir agar space ruang duduk kami di belakang bisa cukup atau lebih longgar. Tepat pukul 04.30 pagi kami meninggalkan Pentingsari dan menuju wahana pertama yaitu Bangker Kaliadem. Kabut tebal menyelimuti bukit, jarak pandang mungkin tidak lebih dari 10 meter. Bapak Sopir yang mengantarkan kami harus menghidupkan lampu kabut, itupun tidak cukup membantu. Berjalan pelan dan tepat di tengah-tengah jalan. Sesekali kami berpapasan dengan jeep lain dan terkadang truk-truk pengangkut pasir. Jangan berkelombang bebatuan menjadi suguhan sepanjang jalan. 



Bangker Kaliadem menjadi obyek pertama yang kami kunjungi. Memasukinya sambil mendengarkan penjelasan dari pak sopir yang mengantar. Ternyata mereka cukup berpengalaman, bukan hanya skill menyetir di jalan berbatu tetapi juga mengetahui sejarah dan cerita-cerita di balik pembangunan bangker ini. Tahun 2010, 2 korban terperangkap di dalamnya. Memang di luar prediksi, bangker ini dirancang bukan untuk menyelamatkan penduduk dari lahar panas akan tetapi dari awan panas atau wedus gembel. Dua korban di dalam bangker pada tahun 2010 bukan karena awan panas tetapi bangker ini tertimbun oleh lahar. Cukup lama mengeluarkan korban dari bangker, para penyelamat harus mengeluarkan material-material erupsi gunung api baru bisa membuka pintu bangker. Sambil mendengarkan penjelasan 'tour guide' kami berjalan menuju bukit di atas bangker untuk sekedar berfoto di tengah kabut. Sebenarnya ini salah satu spot sunrise yang bagus, begitu penjelasan pak sopir, namun sepertinya kondisi alam belum memihak ke kami untuk menikmati indahnya pancaran sunrise. Kabut tebal. 

Puas menikmati tebalnya kabut kami mulai bergerak ke bawah menuju batu alien. Batu yang mirip menyerupai wajah manusia ini besar terdampar akibat erupsi gunung merapi 2010. Meskipun obyek utamanya adalah batu alien, bukan berarti ini merupakan satu-satunya yang bisa dinikmati. Di sini ada beberapa spot foto yang dibangun oleh warga dengan latar gunung Merapi. Namun sangat disayangkan, kabut kurang bersahabat sehingga tidak bisa menikmatinya. Sekitar jam 06.00 kami berada di spot ini, tepat di sebalah timur adalah kali gendol yang selalu menjadi 'saluran' lahar panas maupun lahar dingin. DI dasar sungai yang kering dengan kedalaman lebih dari 15 meter berjajar truk-truk pengangkut pasir. Mereka antri mendapatkan pasir untuk selanjutnya di angkut ke kota-kota tujuan.

Setelah bersenang-senang di spot ini, naik jeep kami menuju museum mini sisa hartaku. Rumah warga yang terkena awan panas. Banyak properti rumah yang masih tersisa seperti gelas, piring dan properti lainnya. Banyak properti yang masih utuh yang berubah bentuk karena meleleh akibat terjangan awan panas. Banyak sekali cerita yang disampaikan oleh tour guide sekaligus sopir sebenarnya. Saat menunjukkan foto awan panas yang menyerupai wajah manusia, pak sopir menceritakan mengenai kepercayaan masyarakat Jogja mengenai makhluk halus yang menunggu gunung merapi. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi itulah kepercayaan masyarakat setempat. Ternyata ada banyak versi cerita di balik erupsi Gunung Merapi. Bukan hanya cerita vulkanologi tetapi juga cerita-cerita mistis yang diceritakan baik secara gamblang maupun sedikit disembunyikan.

Rupanya museum mini sisa hartaku merupakan destinasi terakhir kami. Selesai mendengarkan cerita panjang dan lebar dari Pak Sopir kami langsung turun ke bawah yaitu di Desa Wisata Pentingsari. Mandi pagi, sarapan dan kemudian melanjutkan kegiatan setengah hari sebelum jam 13.00 kami harus check-out dari homestay. 
Share:

Ke Blora? Jangan lupa cicipi lontong tahu Pak Dasrip

Ada rencana ke Blora? Jangan lupa mampir ke Lontong Tahu "Blora Mustika" Pak Dasrip yang berada di Jalan RA Kartini, Blora. Jajanan khas Blora ini cukup terkenal. Setiap pukul 17.00 sampai malam 21.00, antrian mengular bukan hanya mereka yang tinggal di Blora tetapi banyak juga ditemukan plat mobil luar Blora parkir berderet di samping warung. Perlu bersabar, menunggu setiap porsi disajikan atau mungkin di bungkus. Jangan kaget jikalau kita menemukan 1 orang mengantri 10 atau 20 bungkus lontong tahu. Itu sudah jadi pemandangan yang sangat umum di sini. Jika ada 5 orang mengantri di depanmu, bukan berarti ada 5 porsi yang disajikan bisa saja 25 atau justru 50 porsi.

Warung lontong tahu Pak Dasrip
Harga normal untuk setiap porsi adalah Rp. 10.000,- tinggal dihitung saja tambahannya, bisa berupa tempe jati blora, kerupuk dan 'aksesoris panganan' lainnya, tidak hafal satu per satunya. Cukup terjangkau oleh dompet kampung maupun dompet kota. Harga yang pas untuk sebuah porsi hasil juara 1 lomba kuliner Kabupaten Blora ke 258 ini.

Terkenalnya lontong tahu ini memang tidak lepas dari kejuaraan lomba kuliner itu. Juara 1!. Bermula tahun 1984 bisnis rumahan Pak Dasrip terus berjalan, menjadi popular dari satu mulut ke mulut. Dari satu keluarga ke keluarga lainnya hingga menggaung ke luar kota. Maka tidak jarang kita temukan plat nomor kendaraan yang bukan berasal dari Blora. Para pelintas jalur tengah jawa tengah bagian timur tentu akan melewati Kabupaten Blora dan tidak jarang akan mampir ke maestro kuliner Blora ini.

Khas menggunakan daun jati. Aroma wangi daun jati menjadi pembungkus lontong tahu. Khas, sungguh khas dibuatnya. Enak rasa lontong tahu dipadu dengan wangi khas daun jati menjadikan cita rasa tersendiri nan unik dan menarik. Terkadang tidak jarang orang datang hanya karena ingin menikmati lontong tahu beralas daun jati sebagai piringnya. Memang berbeda, sangat berbeda baik rasa maupun aromanya.

Jangan lupa aksesoris panganannya juga musti dicoba. Tempe bungkus daun jati, serba jati pokoknya, juga pantas dinikmati sebagai teman kuliner lontong tahu ini. Tipis tempe, menjadikan tempe terasa krispi dan bumbunya juga meresap hingga bagian tengah dan dalam. Enak sekali!.
Share:

Suramadu Penyambung Cita Rasa Sinjay

Hai fellas..

Gimana apakah sudah berangkat liburan lagi?? Kayanya pengen rasanya tiap hari isinya jadi traveller dan menulis. Disamping itu, saya masih punya mimpi untuk single traveller. Kemana aja, tempat yang menarik untuk dijalani karena travelling itu ga harus mahal kan, seandainya kita bisa berhemat diperjalanan juga kita tetap aja perjalanan kita bakal menarik.

Oke cerita saya kali ini, tentang Surabaya. Sura dan Baya ada simbol dari ibukota provinsi Jawa Timur ini. Gw kesana untuk menghadiri acara dengan beberapa teman kantor kami. Ada beberapa kesan yang menarik waktu gw sampai ke kota dengan ikon ikan hiu dan buaya ini. Begitu rombongan sampai di malam hari kesan yang saya dapatin dari kota itu ada tenang dan menyenangkan. Jalanan disana cenderung lebar dan dimedian jalan pasti terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lumayan luas. Kondisi tersebut jarang sekali terjadi di kota-kota besar di Indonesia, bahkan mungkin di ibukota Jakarta bahkan median yang sangat rindang dan tertata rapih hanya disebagian jalan utama saja. Berbeda dengan Surabaya dimana-mana taman di median jalan atau bahkan sekedar RTH yang cukup luas konsisten bahkan untuk daerah yang jauh dari pusat kota. Bahkan taman di median jalan tak jarang terdapat aktivitas untuk sekedar bermain atau sekedar ngobrol. Salut dengan Ibu Wali!! Oke mungkin konsepnya sama dengan Bandung yang fokus untuk menyediakan ruang khusus yang diciptakan peruntukkannya sebagai kawasan taman ataupun tempat aktivitas khusus. Tapi ide ini cukup kreatif dimana menciptakan ruang-ruang terbuka disepanjang jalan (yang pasti pemiliknya adalah pemerintah) dimana juga dapat mengurangi polusi dan panas yang ada di suatu kota. Mungkin sedikit saran saja kedepannya dapat menciptakan ruang terbuka biru yang juga dapat mengimbangi curah hujan kota Surabaya yang cenderung rendah.

Source: Dokumentasi Pribadi
Berbicara tentang curah hujan, Kota Surabaya bisa dibilang sebagai kota yang luar biasa PUANAAASSS sekalii... ruang terbuka biru mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk memberikan evaporasi terhadap udara sehingga menghasilkan bulir - bulir hujan di Kota Surabaya. Jadi waktu kami disana kami melakukan perjalanan menuju Pulau Madura melalui Suramadu. Yaps, Jembatan terpanjang ketiga di Asia Tenggara itu, memiliki kharisma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata siih. Saya yang baru pertama kali datang ke Surabaya dan melalui jembatan itu cukup terkagum karena secara design jembatan itu sangat mirip dengan Tower Bridges. Iya Tower Bridges di Inggris. Luar biasa keren banget. Trip siang itu melalui selat madura dengan lancar karena kabarnya seandainya angin cukup kencang ada larangan untuk melalui jembatan tersebut. Tapi ya siapa ngerti hehe. Untuk melalui jalan tol sepanjang 5,4 Km ini kita hanya butuh merogoh kocek 15 ribu rupiah aja untuk berkendara dengan mobil. Jadi kalau mau jalan jalan ke Pulau Madura cukup murah kan kalau berkendara dengan mobil. Atau apabila para backpacker ingin menyewa motor bias juga melalui jalan tersebut dengan biaya GRATIS alias FREE. Selain dengan mobil atau moto untuk mencapai Pulau Madura kita juga bisa menggunakan kapal feri. Kita akan melalui pelabuhan paling besar di Surabaya yaitu Tanjung perak seandainya mengunakan feri untuk menyebrang menuju dan dari Surabaya. Di kapal akan menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan dan memiliki kesan sendiri siih seandainya menggunakan feri. Tapi sayang rombongan saya tidak naik feri hari itu.

Pertama kali menjajakan kaki di Pulau Madura adalah pulau tersebut termasuk pulau yang tidak terlalu berkembang dibandingkan beberapa pulau yang termasuk besar di Indonesia, seperti bangka ataupun belitung atau bahkan pulau pulau kecil di kepulauan seribu. Pada saat keluar tol Suramadu, pulau yang ditahun 2015 sempat digadang-gadang untuk dijadikan provinsi baru di Indonesia ini, terlihat memiliki penduduknya yang masih terbilang sangat jarang, dan jarak untuk kita bertemu rumah dari satu lokasi lumayan jauh. Padahal kalau kita lihat bukan termasuk daerah yang tandus, masih ada beberapa pekerjaan pertanian disana, namun seperti kota yang tidak punya aktivitas ekonomi yang besar. Bahkan Kementerian PU punya lahan yang cukup besar disana tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Hal menarik yang dapat ditemui dari Pulau Madura adalah kuliner Bebek Sinjay dan juga skyline Kota Surabaya yang dapat dinikmati dari pinggir Selat Madura tersebut. Luar biasa, seandainya itu dapat dikelola dengan baik pasti akan dapat menjadi tempat pariwisata yang menarik seperti Jembatan Ampera di Kota Palembang. Kenapa demikian, karena dilihat di siang hari saja skyline tersebut dapat terlihat dengan jelas walaupun karena jarak jadi terlihat sangat kecil. Namun apabila malam dan tempat tersebut dikelola dengan baik saya yakit tempat tersebut akan menjadi daya Tarik tersendiri atau bahkan dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi baru untuk masyarakat Madura pada khususnya. Fotonya gw bagi dibawah sini yaa..

Source: Dokumentasi Pribadi, Edited by: Cipta
Keren ga?? (Itu jadi lebih keren karena peran editan temen gw. Aslinya gw mah bukan orang yang bisa fotografi hehhee... Jadi nikmatin aja yang ada ya, hihihii....) Lanjut ke Bebek Sinjay ya.. Tempat makan ini adalah tempat makan yang RUAAAMEENEEE PUUOOLL sampe bingung nyari tempat duduk dong. Ngantri belinya aja panjang banget, belum lagi ngantri ngambil makannya. Warbiasyahh pokoknya. Eits, tapi jalan salah tempat ini cukup worth it loh untuk dikunjungi selagi kita mampir ke Pulau Madura. Menu utamanya bebek goreng, kalau Bahasa Surabayaan tuh bilangnya "iwak bebek", ahhaa.. Iwak ( red : artinya ikan dalam Bahasa jawa ) atau bebek siih pak hehee... Tempat makan itu memang tempat makan yang ramai sepanjang masa. Menu favoritnya pastinya ya bebek kawan, udah ga ada yang lainnya. Pertama masuk kesana hal yang perlu dilakukan adalah dibagi menjadi 2 tim yang 1 adalah pengantri pesan makanan dan yang lainnya mencari bangku kosong untuk duduk. Karena antrian panjang jadi ga semua orang kebagian tempat duduk. Terpaksa harus menunggu pengunjung lainnya selesai makan. Tapi ga perlu takut makanan ga bakalan datang duluan sebelum kita duduk karena setelah proses membayar masih ada lagi proses mengantri makan dan minuman. Selesai kamu bayar kamu dapat mengantri lebih dari 20 rombongan pesanan. Luar biasa magis banget kan makan dengan kerumunan orang begitu. Kepikiran ga berapa omzet Pak Sinjay seharinya? Hhahaha.. Khasnya selain bebek tadi sambal manga yang dimakan bersama bebek goreng berserundeng tersebut. Kabarnya kalau manga sedang sulit sambal itu juga dicampurkan dengan kedondong. Tapi itu sensasinya enak banget siih asin gurih ditambah dengan kecut kecut yang menyegarkan dari manga ataupun kedondong dari sambalnya. Pokoknya kalau udah sampai Pulau Madura harus mampir kesini. 

Kesan menarik banget makan Bebek Sinjay yang dihubungkan dengan jembatan Suramadu, sehingga lebih mudah untuk menjangkaunya hehe.. Seandainya adalagi kegiatan ekonomi yang dapat menjadi trademark ataupun pertumbuhan ekonomi baru pasti Pulau Madura dapat menjadi salah satu pulau yang potensial dimana telah dihubungkannya pulau tersebut dengan Ibukota Provinsinya, Surabaya. Jadi, jangan lupa main - main ke Meduro yo Rek kalau ke Surabaya.

See ya fellas.. :)
Share:

Malaysiaa Story.....

Saya dan tim sebenernya punya blog pribadi dan blog ini sebenerya media untuk kami sharing tentang banyak pengalaman yang kami dapat dari perjalanan yang udah kami lakuin sebelumnya. Mau cerita sedikit aja tentang terbentuknya tim ini. Buat gw pribadi, tim ini ada tim paling nyaman dan paling kece yang pernah ada. Gw pribadi merasa tim ini selalu memberikan energy positif untuk gw terus berkembang, banyak banget energy yang disebar untuk tim maupun untuk pribadi, semoga tim ini terus jadi tim solid yang banyak memberikan pengaruh positif yaa....

Okay kami sepakat tema dari blog ini terkait dengan traveling yang pernah kami lakukan. Okay gw akan mulai dari trip saya dan mba Nikmah ke Malaysia. Kenapa kami kesana? Kami ke Malaysia lebih tepatnya ke Kuala Lumpur untuk join acara UN - Habitat Ninth World Urban Forum (WUF9). Mungkin temen-temen juga pada dengar tentang acara Akbar itu dan sebagian mungkin menghadiri acara tersebut. Sebenarnya gw juga udah sharing beberapa cerita tentang materi WUF9 dan kebodohan traveling ke KL juga di blog gw. Tapi ini gw share yang agak sedikit berbeda ya..

Kesan Pertama
Kesan pertama ke KL setelah sekian lama ga pernah travel ke luar negeri adalah KL jadi semakin semakin semakiiinn lebiiihh kereen dari tahun 2012 lalu gw kesana untuk backpackeran. Apa bedanya? waktu 2012 masih banyak banget pekerjaan prasarana yang lagi dikerjakan, kaya MRT, Halte-halte yang terintegrasi dan ini sudah semakin rapih. Atau mungkin dulu gw tinggal di pinggiran kota (tepatnya di little india), kalau ini di pusat kota ya jadi semuanya terkesan rapih. Semua jalur pedestrian sudah terintegrasi langsung dengan halte bus dan juga pintu masuk LRT dan MRT. Dan yang bikin makin betah untuk jalan kaki adalah jalur pejalan kaki ( pedestrian ways) nya itu rindang banget atau kalau ga rindang ada semacam balkon yang ngehalangin sinar matahari dan hujan. Jadi kaya halte yang puanjaaaanngg banget. Itu yang hampir ga ada di pedestrian ways di Indonesia kayanya. Jadi kalau hujan ya kita bias neduh dan kalau panas ya ga bakalan kepanasan banget. dan itu adalah first impression yang menarik buat gw sih.

Perjalanan ke Kota dari Bandara memang agak jauh siih dan kita harus melewati beberapa pintu tol yang harus otomatis dibayar pakai e-money ( karena Malay akan menuju SMART NATION jadi semua transaksi diusahakan dengan emoney). Sepi dan panjang banget jalan tol itu dari Kuala Lumpur International Airport ( KLIA). Waktu itu dengan uber kita hanya bayar sekitar 90RM yaa karena waktu itu ber3 kita habis sekitar 30RM yang lebih murah daripada kita naik KLIA Express sekitar 55RM. Waktu itu karena delay kita sampai sana sekitar jam 1 malam dan kereta terakhir KLIA Express juga hanya sekitar jam 1 malam kayanya. Jadi naik uber adalah pilihan terbaik.

Malaysia bukan seperti Singapura ya, yang kotanya hidup 24 jam. KL sekitar jam 2 malam ketika kami sampai memang beberapa toko masih ada yang buka tapi tidak semuanya tapi kotanya relative lebih sepi bahkan sepi banget kalau udah lebih dari jam 11 malam. walaupun waktu itu kami tinggal dekat dengan pusat kota. Hampir dekat posisinya dengan Twin Tower dan KL Tower. Mirip dengan suasana malam di Jakarta lah, masih ada beberapa took buka tapi sebagian besar sudah tutup. Tapi begitu pagi mulai keliatan banget kalau acara UN ini super besar banget, karena banyak sekali ornament kota yang jadi berwarna ungu dan bis bis bahkan promosiin ungu, sebagian besar orang yang kami temui dijalan pasti pakai nametag dengan tali ungu yang tandanya mereka adalah bagian dari kegiatan WUF9 UN - Habitat.

Malam yang berkesan yang bikin gw ga mau pulang itu justru baru sadar dimalam terakhir. Tepatnya di Mall Suria tepat dimana kita biasa foto dengan background Twin Tower terdapat pertunjukaan air mancur setiap harinya. Disana ramai sekali turis maupun penduduk asli Malaysia. Pada plasa itu diciptakan ruang publik yang menarik dan menjadi salah satu destinasi menarik untuk menghabiskan malam sambal berfoto atau cuma ngobrol.

Transportasi
Sama halnya dengan Indonesia, transportasi public di KL juga cukup beragam. Mulai dari taksi online sampai MRT, LRT, bus, dan monorail tentunya. Dari semuanya, yang kami coba disana hanya LRT dan bus. Untuk bus, saya pribadi mencoba naik Go KL yang free. Mungkin kalau di Indonesia seperti City Tour di Jakarta yang mengantarkan pelancong ke beberapa destinasi seperti monas, dan kota tua. Tapi Go KL mengantarkan pelancong ke KLCC ke Bukit Bintang yang merupakan pusat perbelanjaan di KL. Kondisi bisnya tidak terlalu penuh dan mengantri tentunya. Semua orang dapat duduk dengan nyaman dan masih banyak kursi kosong tersisa. Jadi cukup nyaman untuk pelancong hehe...

Untuk LRT, kami mencoba menaiki LRT dari KLCC menuju pasar seni. Ongkos kesana kurang lebih 2RM atau sekitar 7ribuan. Ramenya siih bias dibilang sama siih sampe KRL di Jakarta tapi bukan yang jam sibuk ya, hehee.. Karena waktu itu kami jalan sekitar jam 4 sore. Orang yang naik LRT masih nyaman untuk berdiri maupun duduk sambil melakukan kegiatan mereka sendiri ataupun sekedar ngobrol dengan teman.

Untuk materi disana mungkin besok akan kita panjangin lagi cerita ini ya.. Karena keputus tadi jadi gw bingung mau nulis apa lagi hehe... Kalau pengen liat beberapa foto di malay mungkin bias check Instagram gw langsung (disini..). Kalau nulis blog ga langsung upload tuh rasanya gimana gitu.. jadi ini di check langsung publish.

Have a good day fellas..
Share:

Menikmati kopi tubruk Aceh di Puncak Gunung Geuretee

Kali pertama aku menginjakkan kaki di bumi Aceh, langsung terbersit untuk mencoba nikmat kopinya. Di banyak kedai kopi yang menjamur di setiap sudut kota ternyata aku temukan banyak sekali ragam kopi di sini. bukan hanya Gayo yang sangat terkenal itu, hampir di setiap daerah ternyata memiliki kopi khas. Karena perjalananku menuju Meulaboh maka tidak bisa aku coba langsung nikmat kopi Gayo di ladangnya. Tapi tidak mengapa, karena dalam perjalanan ke Meulaboh aku akan disuguhi nikmat kopinya di puncak Gunung Geuretee sambil melihat langsung sunset di Samudera Hindia. Gunung Geuretee ini berada di Kabupaten Aceh Jaya yang bisa ditempuh 2 jam dari Banda Aceh. 

A post shared by sariffuddin (@kelassarif) on

Mendengar promosi dari sopir travel yang khusus mengantarku dari Bandara Sultan Iskandar Muda ke Kota Meulaboh, tertarik juga untuk menyisihkan waktu khusus menikmati kopi Aceh tepat di pinggir samudra hindia, tepatnya di puncak Gunung Geurutee di Kabupaten Aceh Jaya. Sangat kebetulan, untuk mencapai Kabupaten Meulaboh aku harus melewati jalan mulus bantuan para NGO Internasional pasca tsunami yang melintasi Gunung Geuretee ini. Indah alamnya tidak bisa diperdebatkan lagi. Googling saja dengan memasukkan nama Geuretee maka mesin pencari canggih ini langsung akan menyajikan berbagai foto-foto alam indah yang terus membuat decak kagum ingin segera mampir dan berlama-lama di sana. Di sepanjang perjalanan, Pak Sopir selalu memberikan tips-tips jitu agar bisa menikmati alam Geuretee lebih baik yaitu di saat sunset. Langsung terbayang bagaimana menyaksikan secara langsung pancaran merah matahari tenggelam di Samudra Hindia. 

A post shared by sariffuddin (@sariffuddin) on
Tepat Jam 18.00 mobil terparkir di salah satu kedai kopi di Puncak Gunung Geuretee ini. di sini sunset berlangsung pukul 18.30 berbeda dengan di Semarang atau Jakarta, biasanya jam 17.30 sudah memancar warna emas matahari dan membentuk mega. Aku memesan kopi tubruk dan mie Aceh. Bukan inisiatifku sebenarnya, lagi-lagi itu rekomendasi Pak Sopir. Kali pertama memegang gelas berisi kopi, tidak heran aku dibuatnya, tetapi setelah sendok kecil aku masukkan untuk mengaduk, tidak henti-hentinya aku berfikir bagaimana cara meminumnya. Bingung aku dibuatnya karena lebih dari setengah gelas berisi kopi bubuk ditumbuk kasar. Setiap kita meminum langsung dari gelas maka ampas kopi akan langsung menempel di bibir. Sulit sekali, kemudian Pak Sopir memberi tahu aku, caranya adalah dengan membuang terlebih dahulu ampas kopi baru bisa di minum. Namun dibalik usaha keras saya meminum kopi ini, ternyata rasanya belum bisa dikalahkan. Aku sudah banyak sekali keluar-masuk warung kopi tradisional maupun modern di Kota Semarang mau Jakarta, dan semua itu belum ada yang bisa mengalahkan kopi di Puncak Gunung Geuretee ini.

A post shared by sariffuddin (@sariffuddin) on
Sensasi kecut after teste pait kopi sangat kuat dan mendominasi. Nikmat sekali. Di tambah minum kopi sambil menikmati desir ombak samudra hindia dari kejauhan. Mata kita akan dimanjakan oleh hijaunya ladang pertanian dan batu-batu karang raksasa. Menambah semakin 'romantisnya' perjalanan dan suasana. Bagi yang mengajak pasangan, ini adalah spot teromantis tanpa ada sedikitpun yang bisa disangkal. Sedikitnya ada 15 lapak warga berdiri tepat di tebing yang disokong oleh banyak sekali tiang kayu penyangga. Namun, jangan sekali-sekali meninggalkan makanan, snack, dan handphone begitu saja. Banyak monyet-monyet nakal bergelantungan yang setiap saat menyerobot dan menjatuhkannya. Mereka hanya takut sama pemilik warung. 


Ilustrasi (dokumentasi pribadi)
Di sini, di tanah rencong, kedai kopi menjadi bagian kehidupan mereka. Sebelum menjamurnya 'wabah' kopi di pulau jawa, di sini sudah berdiri kedai-kedai kopi yang menawarkan berbagai varian olahan. Tidak hanya tubruk, kopi tarik seperti yang ada di Malaysia juga sangat mudah kita dapatkan. Dan yang baru trend saat ini adalah esperso racikan tradisional. Benar-benar menjadi bagian dari kehidupan warga, mau santai, rapat di tempat kerja hingga menerima tamu semuanya sering dilakukan di kedai kopi. Jika beruntung, disaat musim durian, kita juga akan mendapatkan tawaran buah ajaib ternikmat ini. Murah, jauh lebih murah dibandingkan di Jawa. Pernah aku membelinya hanua Rp. 24.000,- untuk tiga biji tanpa zonk.

Share:

Urbanisasi dan Kampung Kota

Kampung kota atau informal settlement menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kota-kota Indonesia. Kampung ini terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan penduduk kota akibat pertumbuhan alami (fertilitas dan mortalitas) dan juga karena urbanisasi. Bahkan proyeksi yang dilakukan oleh BPS memperkirakan tidak kurang dari 68% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan pada tahun 2025. Fakta lain yang diungkap oleh Kementerian Perumahan Rakyat (2009) menyebutkan bahwa sebanyak 70 - 85% penduduk kota masih bergantung pada perumahan informal ini. 


Fenomena kampung kota di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fenomena pertumbuhan kota-kota di negara berkembang yang cenderung menjadi mega cities. Kota-kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya terus membesar dan menjadi kota yang ’obesitas’. Karena jauh dari sentuhan perencanaan formal, maka kampung kota sering dicirikan dengan ketidakteraturan, ketidakseragaman, ketidakmapanan, dan bahkan ketidakamanan serta ketidaksehatan (Setiawan, 2010). 

Tidak sedikit sindiran/ satir yang bermunculan menanggapi fenomena informalitas perkotaan ini. Sektor ini muncul di luar perencanaan formal yang dibuat oleh para perencana kota baik di RTRW maupun RDTRK. Dokumen perencanaan formal yang tersusun tidak bisa memprediksi sektor-sektor informal yang akan muncul, termasuk di dalamnya adalah permukiman informal.

Bagaimana kampung bisa muncul?
Setiawan  (2010) guru besar perencanaan wilayah dan kota UGM berpendapat bahwa munculnya kampung kota tidak bisa dilepaskan oleh urbanisasi. Semakin sempitnya lapangan usaha di pedesaan memaksa warga desa untuk pergi ke kota  guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Ketatnya kompetisi menjadikan tidak semua orang yang datang ke kota bisa bertahan dan mendapatkan pekerjaan seperti yang mereka impikan. Alhasil, mereka terpinggirkan, termarjinalkan dan menjadi kelompok  yang rentan. 

Untuk bertahan hidup, kelompok masyarakat ini mengelompok dalam lahan marginal yang murah, dan jauh dari fasilitas premium perkotaan. Mereka menyelenggarakan 'perencanaan dan pembangunan' rumah tinggal sendiri sesuai dengan kapasitas mereka dan norma-normal mereka yang tidak terlembagakan. Dan ini menjadi dasar housing authonomy yang tidak memilik standar jelas dan aturan jelas.

Akan tetapi, di balik ketidakteraturan perkampungan terdapat kemampuan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan yang sangat khas. Setiap perkampungan memiliki norma lingkungan  yang berbeda-beda dan unik. Bahkan bisa diperkirakan bahwa jika terdapat 1.000 kampung maka dimungkinkan terdapat 1.000 karakter pula. Ini menandakan adanya ciri khas lokasi yang sangat lekat dengan kondisi sosial penduduknya.

Referensi:
Setiawan, Bakti. 2010. Pidato pengukuran guru besar - Kampung Kota dan Kota Kampung: Tantangan Perencanaan Kota di Indonesia. Yogyakarta: UGM. Available at: http://pidato.net/2691_pengukuhan-prof-ir-bakti-setiawan-ma-ph-d (di akses 14 April 2015)
Share: